Tikar Purun, Kearifan Masyarakat Pedamaran Menjaga Lahan Gambut
LAHAN GAMBUT: 2 Instansi Selidiki Dugaan Pelanggaran Konsesi PT RAPP
12 September 2016
Show all

Tikar Purun, Kearifan Masyarakat Pedamaran Menjaga Lahan Gambut

http://www.mongabay.co.id/2016/09/07/tikar-purun-kearifan-masyarakat-pedamaran-menjaga-lahan-gambut/

Saat mengunjungi Desa Menang Raya, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, ada hal yang menarik perhatian. Saya melihat sejumlah rumah dipenuhi para ibu dan anak perempuan yang menganyam tikar.

Mereka menganyam tikar dengan bahan dasar purun (Eleocharis dulcis). Purun adalah tumbuhan sejenis rumput atau gulma yang banyak tumbuh di wilayah gambut. Tumbuhan ini subur di gambut yang basah ketimbang kering.

Seorang warga Menang Raya sedang menganyam purun. Foto: Jemi Delvian

Seorang warga Menang Raya sedang menganyam purun. Foto: Jemi Delvian

Kecamatan Pedamaran yang memiliki luas wilayah 150.000 hektare, sekitar 120.000 hektare merupakan lahan gambut. Perusahaan perkebunan sawit menguasai lahan hampir 80 ribu hektare, yang sebagian besar arealnya turut terbakar dalam beberapa tahun terakhir, termasuk lokasi yang dikunjungi Presiden Jokowi pada 2015 lalu.

Dulu, hampir semua gambut dangkal yang basah ditumbuhi purun dan masyarakat dengan mudahnya mendapatkan. Kini, hanya sekitar 1.000 hektare lahan gambut yang ditumbuhi purun, sehingga masyarakat harus membelinya ke desaa lain di Kabupaten OKI.

Lokasi gambut seluas 1.000 hektare inilah yang dinamakan Lebak Purun Arang Setambun, yang pada 2015 lalu habis terbakar. Kini, di 2016 ini, lebak purun sudah basah, kembali ditumbuhi purun.

angkaian bidas purun yang dibawa melalui sungai kecil ini. Foto: Yayasan Perspektif Baru

angkaian bidas purun yang dibawa melalui sungai kecil ini. Foto: Yayasan Perspektif Baru

Jangan jadi konsesi

Syarifudin Gusar, warga Desa Menang Raya mengatakan, sejak puluhan tahun masyarakat desanya telah menganyam purun. “Bisa dikatakan 90 persen, terutama yang perempuan. Ini tradisi kami turun temurun. Keahlian menganyam sudah diajarkan sejak usia 10-12 tahun, sehingga sampai sekarang regenerasi tetap berjalan.”

Dijelaskan Syaifudin, permintaan tikar purun dari beberapa daerah tidak pernah berkurang. Yang paling banyak pedagang dari Palembang, Pagaralam, dan Lampung. “Saat ini, hampir tidak ada hasil produksi anyaman tikar yang tidak laku, berapa pun jumlahnya pasti ada yang beli. Kami sangat berharap, pemerintah ikut menjaga kelangsungan usaha masyarakat ini. Caranya,  tidak mengeluarkan izin pengelolaan untuk perusahaan atas lahan yang ditumbuhi purun ini.”

Saat mengunjungi Lebak Purun Arang Setambun, saya melihat hamparan yang seperti tak berbatas. Ada aktivitas beberapa orang yang sedang mengambil purun. Mereka mengikatnya menjadi ikatan bidas dan mengirimnya melalui sungai kecil ke desa-desa di Pedamaran, menggunakan perahu motor kecil yang menarik bidas-bidas itu dengan cara dihanyutkan. Satu bidas bisa untuk tiga tikar.

Lebak Purun Arang Setambun, Pedamaran OKI. Foto: Jemi Delvian

Lebak Purun Arang Setambun, Pedamaran OKI. Foto: Jemi Delvian

Alami

Tikar purun memiliki beberapa motif, sesuai warna dan teknik anyaman. Perwarnaan ini menggunakan sumbo, yakni pewarna yang diambil dari getah-getahan atau kulit buah.

Asmawati (59), pengrajin tikar purun menjelaskan, “Kami punya dua motif andalan, namanya Sisik Salak dan Pejalur. Motif tersebut berdasarkan teknik dan pewarnaan pada bahan tikar. Untuk motif, kami pakai pewarna alami yang disebut kesumbo (sumbo) terbuat dari getah tanaman, kulit buah, dan lain-lain. Sekarang sudah banyak yang jual dalam bentuk bubuk. Harganya Rp60 ribu per ons, yang dapat digunakan untuk 15 lembar tikar.”

Seorang ibu menebas dan mengumpulkan purun yang diambil Lebak Purun Arang Setambun, Pedamaran, OKI. Foto: Yayasan Perspektif Baru

Seorang ibu menebas dan mengumpulkan purun yang diambil Lebak Purun Arang Setambun, Pedamaran, OKI. Foto: Yayasan Perspektif Baru

Menurut Asmawati, pengolahan bahan baku tikar purun cukup sederhana. Purun basah dijemur. Setelah kering dibersihkan, kemudian dipipihkan dengan cara ditumbuk dengan kayu. Selanjutnya diwarnai sesuai kebutuhan, lalu dianyam.

Tikar purun yang sudah jadi—umumnya selesai dikerjakan 2-4 hari—dijual dengan harga Rp20-60 ribu per lembar. Harga disesuaikan dengan lebar tikar dan motif. Umumnya tikar purun yang dibuat 1,5 meter x 50 centimeter. “Kian banyak warna, harganya makin mahal.”

Anyaman purun juga bisa dibuat menjadi tas, kotak suvenir dan lain-lain. Namun, karena pasar yang terbatas, belum banyak variasi yang diproduksi. “Kami membuatnya kalau ada yang memesan. Harganya dirundingkan,” ujar Asmawati.

Sisik Salak, salah satu motif tikar purun. Foto: Jemi Delvian

Sisik Salak, salah satu motif tikar purun. Foto: Jemi Delvian

Selain memanfaatkan purun menjadi tikar, masyarakat Pedamaran juga memanfaatkan ikan yang melimpah dari lahan gambut. Salah satu bahan makanan terkenal dari Pedamaran adalah  pekasem yaitu ikan sungai yang difermentasi dengan beras. Juga dibuat balur, ikan asin yang tidak terlalu asin, serta selai ikan.

“Pemanfaatan ikan rawa gambut mulai menurun, karena bahan bakunya sudah banyak berkurang. Ini dikarenakan rawa gambut banyak digunakan untuk perkebunan sawit,” pungkas Syarifudin.

 

* Jemi Delvian. Pemerhati lingkungan di Sumatera Selatan, dan vokalis grup musik lingkungan Hutan Tropis Band. E-mail: hutantropisband@gmail.com. Tulisan ini kiriman penulis.