Rehabilitasi Mangrove Perlukan Komporomi Kepentingan Para Pihak

SIARAN PERS

No. SIPERS/BRGM/4/6/2021

Dapat disiarkan segera

Kepala BRGM beserta Deputi Lingkup BRGM bersama Gubernur Kalimantan Utara.

Tarakan, 2 Juni 2021,

Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, Ir. Hartono, M.Sc., didampingi para deputi melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Kalimantan Utara pada 1-2 Juni 2021.

Sebagai provinsi yang merupakan perbatasan wilayah RI dengan Malaysia, Filipina dan bagian perairan regional Sulu Sulawesi, Kalimantan Utara mempunyai peran penting dalam menjaga kelestarian kawasan perairan dan juga keutuhan wilayah RI.

Ekosistem mangrove, terutama di wilayah pesisir berperan penting dalam menjaga pulau-pulau kecil dari ancaman abrasi.

Pemerintah Kalimantan Utara menyebutkan total lahan mangrove di provinsi ini seluas kurang lebih 442.742,84 ha. Tahun 2021 ini target luasan mangrove Kaltara yang akan direhabilitasi sebesar 5954 ha, terdiri dari 1427 ha dalam Kawasan Hutan dan 4527 di luar Kawasan Hutan. Lokasi rehabilitasi akan berada di  Nunukan,  Tarakan dan Tana Tidung dan Bulungan.
 
“Kita harus hati-hati dalam melakukan rehabilitasi mangrove di Kalimantan Utara. Hasil identifikasi lahan kritis mangrove di Kaltara, sebagian besar lokasi adalah tambak. Karena itu pelaksanaan rehabilitasi mangrove harus dilakukan secara kompromi, disesuaikan dengan tata ruang, dengan metode pelaksanaan yang berbeda sesuai tipe penggunaan lahannya” demikian disampaikan Kepala BRGM ketika mengunjungi area mangrove di pantai Amal, di Kota Tarakan.

“Kita juga harus memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa penanaman mangrove dapat memberikan manfaat ekonomi bagi mereka” tambah Hartono.
 
Lokasi yang dikunjungi oleh Kepala BRGM dan rombongan juga berkunjung ke Desa Liagu Kabupaten Bulungan. Tahun 2020, di Desa Liagu telah dilakukan penanaman kegiatan PEN seluas 100 ha di areal tambak dan lokasi lainnya. Desa yang dihuni oleh suku Tidung ini merupakan desa binaan KPH Kota Tarakan dan telah mengembangkan hasil hutan bukan kayu-lebah madu kelulut.
 
Masyarakat di areal mangrove yang dikunjungi Kepala BRGM, yang sebagian besar mata pencahariannya adalah petambak dan nelayan, sangat antusias untuk segera melakukan penanaman karena mangrove yang tumbuh baik sangat disukai ikan untuk berkembang biak. 

Pendekatan desa dan pelibatan masyarakat menjadi kunci utama keberhasilan rehabilitasi mangrove. Pembentukan Desa Mandiri Peduli Mangrove akan dilakukan.

Kepala BRGM juga melakukan koordinasi dengan Gubernur Kalimantan Utara, Drs. H. Zainal Arifin Paliwang, SH., M.Hum.  Kedua pihak mendiskusikan  strategi bersama BRGM dan pemerintah daerah dalam  pelaksanaan percepatan kegiatan rehabilitasi mangrove di provinsi Kalimantan Utara.

Untuk informasi lebih lanjut kunjungi situs Badan Restorasi Gambut di www.brg.go.id