Sagu, Mengajak Kembali Ke Selera Asli Nusantara

Papeda dan ikan kuning khas Papua

Kita di Indonesia Barat selama ini dimanjakan dengan makan nasi dan percaya bahwa beras merupakan makanan asli Indonesia. Namun, ada temuan menarik dari para peneliti bahwa sagu ternyata sudah lebih dulu dikonsumsi di bumi Nusantara. Bahkan asal muasal kata sego (bahasa Jawa berarti nasi) dimaksudkan untuk menyebut sagu sebagai makanan pokok. Karena sagu sejak dulu sudah diolah menjadi berbagai jenis makanan yang lezat dan disukai seluruh keluarga.

Dalam diskusi daring yang dilaksanakan Badan Restorasi Gambut tanggal 7 Juli 2020 dengan tajuk “Tanaman Sagu di Lahan Gambut: Potensi dan Tantangan Pengembangan” , Prof. Dr. Ir. HMH Bintoro, M.Agr, Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor membawa peserta diskusi menelurusi cerita tentang sagu, dimulai sejak abad ke-9 Masehi di tanah Jawa.

Sagu sebenarnya ditemukan di berbagai daerah, meskipun sekarang dominan banyak menjadi bahan makanan di Indonesia Timur seperti di Papua, Maluku, dan Sulawesi, bubur sagu menjadi makanan pokok penduduk asli dengan nama atau penyebutan yang berbeda. Kapurung di Sulawesi, dan papeda di Maluku atau Papua.

Di Indonesia, budidaya sagu dikembangkan di areal seluas total 5.539.637 hektare, tersebar di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Mentawai, Papua, dan Papua Barat. Kapasitas produksi sagu saat ini hanya 250.400 ton per tahun. Terdiri dari sagu rakyat sebanyak 241.000 ton per tahun, sagu perkebunan 6.000 ton per tahun, sagu rakyat Papua 400 ton per tahun, dan sagu perkebunan di Papua Barat sebanyak 3.000 ton per tahun.

Itu sebabnya saat kita menjelajah ke Kabupaten Meranti, Provinsi Riau, sagu tumbuh bebas di ekosistem gambut yang basah, masyarakat terbiasa mengolah sagu menjadi berbagai jenis produk pangan olahan seperti mi sagu, lempeng sagu, sagu rendang, dan sempolat atau bubur sagu dengan tambahan udang, ikan, cumi, atau kerang serta sayur pakis.

Pekerja kilang sagu sedang memotong tual sagu .

Pengolahan sagu saat ini juga semakin modern. Pada industri pangan, tepung sagu mulai diteliti dan dikembangkan menjadi biskuit pendamping air susu ibu, sohun instan, serta kue kering. Karena menurut Prof. Bintoro, sagu memiliki nutrisi yang relatif lengkap dan baik bagi tubuh. Di dalam sagu terdapat karbohidrat dalam jumlah cukup banyak plus protein, vitamin, dan mineral.

Pengembangan sagu salah satu bahan pangan lokal Indonesia perlu lebih digalakkan lagi karena memiliki kadar karbohidrat serta serat yang tinggi. Kandungan nutrisi dan manfaat sagu menjadi solusi pangan pengganti nasi, dan bagi mereka yang mengidap penyakit celiac atau autoimun, bisa beralih ke makan sagu,” beber Prof. Bintoro.

Sagu menjadi salah satu tanaman yang dapat memperkuat ketahanan pangan Indonesia di masa mendatang. Namun, tantangan yang dihadapi saat ini adalah peningkatan produksi sagu. Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead juga yakin: “Dalam jangka panjang sagu dapat memberi keuntungan ekonomi karena bisa memperkuat ketahanan pangan nasional serta meningkatkan kualitas hidup dan sosial ekonomi masyarakat. Terutama petani dan pengolah sagu,”

Nah, mulailah sedikit-sedikit mencicipi nikmatnya hidangan makanan sagu, diolah menjadi berbagai aneka panganan. Dari mi sagu maupun bubur sagu bisa menjadi pilihan apalagi ditambahkan bahan-bahan seafood seperti udang dan ikan yang lembut teksturnya. Sedapnya hidangan yang akan menggugah selera makan kita.

https://pict-b.sindonews.net/dyn/620/pena/news/2020/07/09/185/95372/sagu-olahan-yang-lekat-di-lidah-orang-indonesia-exp.jpg