Restorasi Gambut Perlu Peta Lanskap Yang Komprehensif

Ilustrasi – Infrastruktur pembasahan gambut di salah satu areal gambut di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan

Pakar ilmu tanah menyebutkan bahwa Indonesia memerlukan pemetaan yang prima mengenai lahan gambut dan perlu dukungan teknologi untuk mewujudkannya.

Dengan pemetaan gambut, menurut ahli ilmu tanah Universitas Sriwijaya, Muh. Bambang Prayitno di Jakarta, Kamis, pengelolaan ekosistem gambut di area Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG) menjadi lebih baik lagi

Selama ini banyak perkebunan sawit dan karet yang tidak mematuhi regulasi Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016 mengenai Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut

“Setiap KHG tidak bisa dikelola tanpa kategori apakah masuk gambut budidaya atau lindung. Ini yang perlu kita kaji bersama untuk pengelolaan dan keberlanjutan di lapangan,“ ujarnya dalam diskusi ilmiah mengenai sejarah dan inovasi teknologi pemetaan gambut yang digelar Badan Restorasi Gambut (BRG).

Deputi Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut Haris Gunawan menambahkan inovasi teknologi untuk restorasi dibutuhkan para peneliti dan akademisi dalam penanganan gambut di Indonesia.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Prof Gusti Z Ashari berharap moratorium terhadap pembukaan lahan gambut saat ini bisa dimanfaatkan untuk konservasi.

“Kebijakan ini membuka peluang bagi generasi penerus untuk mengembangkan opsi pemnfaatan hutan gambut, restorasi gambut yang terdegradasi, sehingga mendukung pengembangan skema pengelolaan lahan gambut  yang bertanggung jawab,” katanya.

Professor Of Physical Geography University of Leicester, Susan Page memaparkan masa pembentukan gambut di belahan dunia dimana di wilayah tropis, terbentuk pada era Holosen.

Di Asia Tenggara, tambahnya, gambut diperkirakan telah terbentuk sekitar 26 ribu tahun silam di inland, sementara di coastal terbentur sekitar 8.000 tahun silam.

“Meskipun ekosistem gambut terbentuk melalui proses yang panjang, lahan gambut sangat rentan dan telah mengalami perubahan. Perubahan ini dimulai dari penggundulan hutan, proses drainase yang buruk, pembukaan lahan dan kebakaran lahan,” ujan Susan.

Sumber : https://www.antaranews.com/berita/1731074/pakar-indonesia-perlu-pemetaan-prima-lahan-gambut?utm_medium=mobile