Restorasi Ekosistem Gambut Berbasis Sains Interdisipliner

Upaya untuk merestorasi gambut terus dilakukan Badan Restorasi Gambut (BRG).

Bersama dengan para peneliti, akademisi, dan masyarakat, serta pemerintah daerah, mengadakan diskusi ilmiah restorasi ekosistem gambut.

Deputi Bidang Penelitian dan Pengembangan BRG, Haris Gunawan mengatakan para ilmuwan membuka diri untuk membuat terobosan sains bagi restorasi gambut.

“Kita harus mendengar para pihak yang mengolah gambut dan kita ingin pemanfaatan ekosistem gambut dapat memberikan kontribusi dalam konteks bersama, memulihkan tata kelola ekosistem gambut,” ucap Haris.

Haris berharap para ahli bisa membuat terobosan pengembangan ekonomi hijau untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar areal gambut.

Hal serupa juga disuarakan oleh Direktur Pusat Inovasi, Teknologi, Komersialisasi, Manajemen Hutan dan Lahan, Universitas Lambung Mangkurat, Prof Yudi Firmanul Arifin,  pemanfaatan gambut untuk pertanian perlu meningkatkan perekonomian masyarakat. Ada beberapa komoditas pertanian yang cocok di lahan gambut tipis dengan fungsi budidaya.

“Potensi komoditas pertanian yang bagus, sudah dilakukan oleh sebagian masyarakat, seperti semangka, nanas, bilungka, dan petai. Selain itu ada beberapa jenis kayu, misalnya meranti rawa, gelam, dan gemor,” ucap dia.

Tetapi, pembukaan lahan gambut dapat mempengaruhi jumlah spesies endemik lahan gambut dan meningkatkan potensi kebakaran apabila tidak dikelola dengan benar.

“Selain itu pembukaan lahan gambut juga akan mempengaruhi kendali hidrologis” kata Yudi.

Yudi menambahkan, lahan gambut dapat menyerap 13 kali lipat dari beratnya dan  menyimpan cadangan karbon yang besar.

Melihat peran penting lahan gambut yang rentan terbakar, Guru Besar Fakultas Geofisika dan Meteorologi IPB University, Prof. Daniel Murdiyarso menekankan pada pengelolaan tata air. Tata air yang baik dapat mengurangi risiko kebakaran sekaligus emisi gas rumah kaca.

“Kebakaran itu komponennya banyak, yang menentukan sekarang adalah bagaimana manajemen tata air di tempat yang terdegradasi” ucap Daniel.

Untuk menemukan manajemen tata tata air yang tepat, Prof Daniel mengatakan perlu melakukan pendekatan sains. Terutama pada teknik penyekatan kanal.

“Penyekatan kanal akan mereduksi oksidasi bahan organik yang bisa menurunkan respirasi heterotrofik,” ujar dia.

Sementara itu, Koordinator Pusat Studi Bencana (PSB) Universitas Riau, Dr Sigit Sutikno berpendapat, penggunaan sekat kanal bisa menahan air agar tidak keluar dari kubah gambut.

“Sekat kanal berfungsi menjaga air agar tidak overdraine,” ucap Sigit.

Dengan penggunaan sekat kanal, risiko kebakaran dapat dikurangi. Meski demikian, dia memunculkan pertanyaan bagi para peneliti.

“Kalau di sungai ada one river one plan one integrated management, tapi dalam kesatuan hidrologis gambut (KHG) bagaimana?” kata dia.

Dia berharap, proses restorasi ini dapat dipantau secara kontinyu dengan memperhatikan kelembabannya. “Penyekatan kanal terbukti efektif untuk menaikan tinggi muka air (TMA) di lahan gambut pada radius hingga 170-230 meter dari kanal, radius penyekatan kanal bisa lebih besar atau lebih kecil,” ucap dia.

https://www.tribunnews.com/nasional/2020/10/22/restorasi-ekosistem-gambut-berbasis-sains-interdisipliner