FOTO: Membuat Limbah Gambut Bermanfaat
7 November 2016
Komik Ini Alat Abdurrahman Saleh Selamatkan Gambut
8 November 2016
Show all

Purun dan Tradisi “Bergambut” Perempuan Padamaran

Desa Tikar, demikian orang di Sumatera Selatan menyebut desa-desa di kawasan Kecamatan Pedamaran, Kabupatan Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumater Selatan. Pasalnya ada 14 desa di sana yang kebanyakan warganya- terutama perempuan- dikenal sebagai pembuat tikar dari bahan purun.  Purun (Eleocharis dulcis) adalah sejenis tumbuhan rumput liar mirip pandan yang tumbuh subur di wilayah basah di kawasan rawa bergambut. Kecamatan Pedamaran yang memiliki luas wilayah 150.000 ha, memiliki gambut seluas 120.000 ha. Jadi mudah saja menemukan rumput purun meliar di setiap lahan gambut yang mendominasi wilayah ini. Gambut adalah habitat asli purun. Tidak heran jika di wilayah gambut, pasti kegiatan memurun didalamnya menjadi tidak asing.

Begitu dekatnya masyarakat Pedamaran dengan purun, tradisinya pun terbangun di tiap hari dalam kosmologi kehidupan warga. Terutama para perempuan yang terbiasa menggunakan waktu luangnya menganyam purun atau biasa dikenal dengan sebutan “berambak.”  Sambil berambak biasanya mereka bernyanyi untuk sekalian meninabobokan bayi atau menidurkan anaknya dibuaian. Tradisi berambak sambil bernyanyi ini kemudian disebut dengan “incang-incang.”

Lagu yang dinyanyikan kurang lebih mempunyai arti sbb:  tradisi berambak adalah kegiatan yang baik dilakukan perempuan di waktu senggangnya. Karena berambak bukan saja membuat tikar dan barang lainnya, tapi juga tambahan penghasilan keluarga yang cukup membantu menambah lauk pauk di dapur atau uang jajan anak di sekolah.

Biasanya kegiatan ini dilakukan pagi dan jelang sore harian ketika para ibu tengah berkumpul dan selesai mengurus suami dan anaknya. Terkadang laki-laki secara spontan menimbrung, dan ikut memurun, atau turut bernyanyi juga. Jika ada yang membawa gitar, mereka pun mengiringi “pemurun,” yang tengah berincang-incang.

Tradisi berambak-memurun begitu kuatnya di kawasan ini. Bahkan meski jaman berganti, tradisi ini juga tidak memudar. Memurun yang biasanya dikenal identik dikerjakan oleh perempuan sepuh dibeberapa wilayah lainnya yang bergambut, namun di Pedamaran memurun juga dilakukan perempuan remaja pun.

“Jika dia mengaku perempuan Pedamaran, maka dia dipastikan bisa memurun. Jika tidak bisa memurun, dia hanya mengaku-aku saja dan bisa dipastikan dari orang luar desa kami,” jelas Mulyana, 52, perempuan dari Desa Pedamaran1, ketika ditemui tengah memurun pada acara Jambore Masyarakat Gambut, di Jambi, belum lama ini.

Adalah Rusla, 67, seorang ibu di Pedamaran yang juga melestarikan tradisi purun di kalangan muda. Dia bahkan memastikan beberapa sekolah mempunyai mata pelajaran memurun. Dia tidak ingin tradisi memurun hilang. Rusla menuturkan, di Pedamaran anak perempuan di daerah gambut sudah diajarkan untuk membuat anyaman tikar dari purun sejak mereka berusia 10-12 tahun. Membuat purun lekat pada perempuan,  karena ketika menganyam tikar butuh kesabaran dan ketekunan.

“Perempuan biasanya lebih tekun, teliti. Oleh karena itu purun menjadi salah satu kerja perempuan yang bisa membantu kebutuhan dapur kita,” ujar Rusla.

Rusla menuturkan peran purun dalam meningkatkan ekonomi di tingkat keluarga sangat signifikan. Misalnya, satu buah tas berukuran 32×42 cm dijual dengan harga Rp 40.000. Bahkan Rusla yang punya tempat penampungan dan juga “toko penghasil purun ini,” pernah mendapatkan pesanan membuat tas purun sebanyak 1000 tas yang dikerjakan selama dua bulan dan menggerakkan 20 perempuan pengerajin purun.

“Ibu-ibu merasa terbantu dengan adanya purun, mereka bisa membantu menyekolahkan anak-anaknya hingga kuliah” ujar Rusla.

Biasanya lama pengerjaan satu tikar purun tergantung pada aktifitas domestik perempuan. Biasanya satu tikar purun kecil yaitu dua meter dikali satu meter dikerjakan selama 2-3 hari. Selain tikar, Rusla juga membuat tas-tas purun yang dijual kepada dinas-dinas terdekat.

Sementara untuk membuat satu tikar, mulai dari proses pengeringan hingga pewarnaan purun, diakuinya bisa menghabiskan waktu sampai satu minggu. “Kalau bahan bakunya sudah ada, untuk menganyam tikar itu hanya sebentar,” jelasnya.

Kebutuhan tikar di desa tempat tinggalnya cukup tinggi. “Untuk pemasaran kami masih mengandalkan masyarakat sekitar untuk membeli tikar yang sudah kami buat,” ungkapnya.

Beberapa tahun terakhir, mereka sudah mendapatkan keahlian membuat kerajinan purun menjadi tas, dompet, sendal, dan sepatu. Sehingga, potensi kerajinan mereka bisa dijual ke luar desa semakin tinggi. “Beberapa kali kerajinan yang dibuat ibu-ibu desa Pedamaran sudah dibawa pameran di Palembang,” jelasnya.

Meski demikian, sejauh ini, pengrajin purun masih menggantungkan harapan kepada pemegang kebijakan dan pemerintah setempat agar kerajinan mereka bisa terus berkembang dan dipasarkan dengan harga yang lebih menguntungkan. “Untuk penjualan tikar purun saja, ibu-ibu di desa sudah bisa membantu penghasilan keluarga. Apalagi kalau kerajinan seperti tas, dompet, sepatu dan sendal bisa dipasarkan ke luar sumatera selatan dan luar negeri,” harapnya.

Karena itu Rusla menilai menjaga purun di lahan gambut sangat penting, karena telah menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar. Jika gambut rusak,  maka bisa dipastikan tradisi Berambak pun akan punah. Kota Pedamaran yang dikenal sebagai kota tikar pun hanya diingat sebagai kenangan. Lebih dari itu kemandirian perempuan dalam membantu keluarga juga akan bertambah sulit.

Kekhawatiran Rusla mungkin saja akan terjadi. Apalagi kini di Pedamaran kawasan bergambut habitat purun bertumbuhkembang juga mulai berkurang. Data Jaringan Masyarakat Gambut Sumsel menyebutkan, kecamatan Pedamaran kini mulai dikelilingi perkebunana kelapa sawit. Kini hanya tersisa 1200 ha. Namun 1000 ha sebagian besar masuk ke konsesi 8 perusahaan ,  dan yang tersisa bisa dimanfaatkan oleh masyarakat hanya 30 ha, namun yang telah  dimanfaatkan baru 4 ha saja.

Semakin parah kondisinya, ketika kawasan ini juga terbakar hebat di tahun 2015 lalu. Padahal dulu, saat wilayah gambut Pedamaran belum disentuh konsesi, hampir semua gambut dangkal basah subur dan kaya dengan purun. Mudah sekali warga mendapatkannya.  Kini yang tersisa hanya sekitar 1.000 hektare lahan gambut yang ditumbuhi purun. Desa yang terdekat dengan tanaman purun  mudah mendapatkannya, sementara desa lainnya harus membeli ke desa lainnya, atau mencari purun lebih jauh lagi,” jelasnya Rani Hasbi salah seorang pendamping masyarakat Pedemaran dari Jaringan Masyarakat Gambut Sumsel, ketika tengah mendampingi warga pada Jambore Masyarakat Gambut, di Jambi, 7 November lalu.

Data kemitraan seperti yang dikutip Tempo, melalui Gladi Hardiyanto, staf proyek Program Pembangunan Berkelanjutan dari Kemitraan, menyebutkan Sumatera Selatan menjadi provinsi prioritas restorasi gambut pasca-kebakaran hebat pada tahun lalu. Ada 400 ribu hektare lahan gambut yang harus direstorasi agar menjadi basah kembali. Kerusakan gambut di wilayah ini memang sudah dipastkan akibat pembukaan perkebunan sawit dan hutan tanaman industri.Sekitar 738 ribu hektare lahan gambut di Sumatera Selatan dijadikan perkebunan hutan tanaman industri dan perkebunan sawit. Sebanyak 17 perusahaan sawit mengelola lahan seluas 478 ribu hektare. Sedangkan 259 ribu hektare kawasan gambut dijadikan perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh 70 perusahaan.  Kabupaten Ogan Komering Ilir merupakan salah satu kawasan dengan lahan gambut terluas di Sumatera Selatan. Luas lahan gambutnya mencapai 570 ribu hektare, hampir separuh dari total kawasan gambut Sumatera Selatan yang mencapai 1,2 juta hektar (Tempo, Berkah Purun di Lahan Gambut, Rabu, 7 September 2016).

Akibatnya, pengrajin terpaksa membeli purun ke desa tetangga, yang tentunya harganya tidak sama dengan purun yang didapatkan di desa mereka sendiri. “Hampir setiap desa di Pedamaran, perempuannya menganyam purun. Jadi, untuk bahan baku, bisa didapatkan dari desa lain,” kata Rusla.

Sementara itu, Suparedy, Kepala Desa Menang Raya, mengakui jika pengrajin purun bukan sekadar pekerjaan sampingan saja. Karena, dengan memberdayakan sumber daya alam yang ada di lahan gambut, menjadikan masyarakat di sana bisa lebih bagus tingkat perekonomiannya. “Kalau lahan gambut dirusak, bagaimana masyarakat di sini bisa melanjutkan hidup. Padahal, kerajinan purun ini dibuat sudah sangat lama di desa kami,” ungkapnya.

Untuk itu, dirinya berharap persoalan pembakaran lahan gambut bisa segera diselesaikan pemerintah. Selain itu, pemerintah bisa membantu masyarakat dalam memasarkan hasil kerajianan purun. “Supaya kualitas kerajinan purun di desa kami semakin baik. Pemerintah bisa membantu dengan alat jahit dan peralatan lainnya,” katanya.

Suparedy yakin dengan membantu masyarakat mengembangkan pemasaran kerajinan dan menjaga bahan baku tetap ada, masyarakat setempat tingkat kesejahteraannya akan meningkat. Sehingga, upaya meningkatkan perekonomian dengan merusak lahan gambut bisa dicegah.

(Musfarayani – diolah dari berbagai sumber dan hasil wawancara pada Jambore Masyarakat Gambut)