Praktik Pertanian Tanpa Bakar Kini Mulai Menuai Hasil

Panen padi dengan metode pengolahan lahan tanpa bakar di Sungai Nipah, Teluk Pakedai, Kubu Raya

Cerita Sukses Petani di Kawasan Gambut

Gagasan pertanian tanpa bakar oleh masyarakat di berbagai daerah di Kalimantan Barat kini menuai hasil. Ini juga bagian dari usaha warga untuk produktif dalam bertani sembari menjaga keutuhan ekosistem gambut.

Sejak dilarang membakar, masyarakat berhenti mengolah lahan karena belum tahu cara lain bagaimana menyuburkan lahan gambut. Karena itulah, Badan Restorasi Gambut (BRG) mengenalkan metode pengelolaan lahan tanpa bakar (PLTB). Seperti yang diterapkan oleh kelompok-kelompok tani di berbagai daerah di Kalbar.

Satu di antaranya adalah Asmuni, yang sore itu baru pulang melihat demplot pertanian tanpa bakar yang dikelola kelompoknya. Ada senyum semringah di wajahnya. Berbagai jenis tanaman holtikultura dikembangkan Asmuni dan kawan-kawan dari Gerakan Peduli Gambut (Gerpega) Desa Trimandayan, Desa Teluk Keramat, Kabupaten Sambas. Lahan seluas 1 hektar itu diisi jahe, terong, tomat, kacang panjang, cabai, serta sayuran lainnya.

Gerpega ialah kelompok masyarakat yang bergerak di bidang pertanian tanpa bakar. Awal terbentuk pada 2018 bernama Tim Desa Peduli Gambut (DPG). Tim ini dibentuk sebagai tindak lanjut Sekolah Lapang Petani Gambut (SLPG) yang dilaksanakan oleh Badan Restorasi Gambut dalam program DPG.

“Alhamdulillah sejak didampingi BRG dalam pengembangan pertanian tanpa bakar, kami sudah merasakan hasilnya. Bahkan jahe hasil dari lahan itu sudah kami olah jadi serbuk jahe yang dikemas untuk dijual ke pasaran,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Kepala Dusun Seiyung ini.

Di Kayong Utara juga diterapkan metode pertanian serupa. Tepatnya di Desa Pulau Kumbang Kecamatan Simpang Hilir yang mulai didampingi oleh fasilitator desa BRG. Demplot ini dibangun dengan menggunakan tanah desa. Seperti kata Firdaus, pemerintah desanya sangat mendukung metode pertanian tersebut. Luas demplot itu kini bertambah jadi satu hektare.

Awalnya demplot yang kami kelola ini seluas setengah hektar, ditanami kacang panjang, terong, tomat, jagung dan cabai. Setelah panen perdana, hasilnya kami bagi-bagikan ke warga,” kata Ketua Karang Taruna Desa Pulau Kumbang ini.

Hasil panen itu, tambah Firdaus, dibagikan untuk memotivasi warga agar kembali mengelola lahannya dengan produktif. Jika terlantar, sangat rentan terjadi kebakaran lahan seperti tahun-tahun sebelumnya. “Tapi alhamdulillah sekarang tidak terjadi lagi,” tambahnya.

Cerita yang sama juga datang dari Desa Sungai Nipah, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya. Kisah itu datang dari Salam dan kelompoknya. “Setelah mendapatkan ilmu dalam kegiatan Sekolah Lapang, bersama fasilitator pendamping, awalnya kami menanam kangkung di lahan demplot. Sempat panen hingga 150 kilogram dan kami jual ke pasar Flamboyan Pontianak,” ucap pria berusia 54 tahun ini.

Lantas Salam merelakan lahannya untuk menjadi lokasi baru demplot sekaligus menjadi wadah edukasi restorasi gambut. “Di situ kami coba menamam padi. Berbekal ilmu dan metode yang didapatkan dalam Sekolah Lapang dengan penggunaan pupuk cair alami F1 Embio serta kompos. Kami terapkan dan berhasil. Ternyata lahan gambut juga dapat ditanami padi,” ujarnya.

Sekarang demplotnya dilengkapi dengan saung yang dibantu dengan dana. Juga tambahan alat pengolahan lahan seperti mini handtractor, mesin pencacah multifungsi serta mesin pompa dan selang dari BRG.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Permata Elok, Desa Pasak Piang, Kecamatan Sungai Ambawang, M. Yasin,aktif mempromosikan pertanian tanpa bakar. Lahan gambut dengan tingkat keasaman yang tinggi dan pH tidak netral bukan lagi menjadi kendala bagi pria 42 tahun itu.

Dalam Sekolah Lapang BRG yang dikutinya pada 2018 lalu, dia mengenal formula F1 Embio untuk mengurangi kadar keasaman tanah dan menetralkan pH. Sejak itu, dia menerapkan formula tersebut di lahan demplot bersama kelompok tani di desanya.

Selengkapnya : https://pontianakpost.co.id/penerapan-metode-pengolahan-lahan-tanpa-bakar/