Perjuangan Melawan Korona dari Lahan Gambut

Ada dua tantangan besar dihadapi petani-petani di lahan gambut memasuki bulan Mei tahun ini. Selain pandemi Covid-19, juga harus menghadapi musim kemarau. Kemarau di saat sekarang ini akan menjadi tantangan besar jika kabut asap muncul seperti tahun-tahun lalu. Namun tantangan ini bisa jadi peluang bagi petani kreatif di lahan gambut terutama di desa-desa gambut di Sumatera dan Kalimantan.

Sejumlah petani sudah mengambil langkah cerdas. Seperti contoh Ibu Munihar, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Tunas Jaya, Desa Mandala Jaya, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi yang berinisiatif menanam rempah-rempah (jahe merah)  dengan metode lahan tanpa bakar tahun lalu. Berbekal sumber daya yang tersedia di desa, dia bersama para petani perempuan di desa memanfaatkan pekarangan rumah sebagai kebun percontohan (demplot). Kotoran kambing dari kandang di samping rumah dimanfaatkan untuk penyubur tanah. Hasilnya ternyata memuaskan. Tujuh bulan kemudian, panen pertama menghasilkan lebih dari 100 kilogram jahe.

Budidaya jahe merah yang dimulai tahun lalu, sekarang mulai memberi manfaat menguntungkan bagi petani (foto: Kompas)

Kini, jahe merah menjadi primadona di Mandala Jaya. Bahkan di Pasar Angso Duo Kota Jambi, misalnya, harga jahe merah terus melambung. Paling murah harganya Rp 80.000 per kg. Selama masa korona ini, banyak pedagang dan spekulan blusukan ke desa-desa penghasil jahe, termasuk Mandala Jaya. Seperti diketahui, jahe merah salah satu rempah berkhasiat menambah daya tahan tubuh menghadapi pandemi saat ini.

Ternyata budidaya olah lahan tanpa bakar menarik perhatian pengurus desa. Desa pun mendukung dengan Perdes tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Gambut disahkan awal tahun ini termasuk alokasi dana untuk pemberdayaan kelompok peduli gambut, salah satunya untuk pembelian mesin produksi pupuk dan mesin pengolah lahan tanpa bakar.

Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan BRG, Myrna Safitri berharap bencana kabut asap tak berulang tahun ini. Ia mengapresiasi upaya desa-desa yang semakin peduli akan kelestarian gambut. Kesadaran masyarakat untuk memulihkan gambut bahkan dilakukan dengan sejumlah terobosan. Kaum perempuan menjadi ujung tombak menuju pengelolaan gambut berkelanjutan.

Jika upaya dan kerja keras bersama bisa terus dilakukan, maka bencana kabut asap bisa dihindari dan pemulihan gambut berjalan baik. Simak kisah lengkapnya berikut ini:

https://kompas.id/baca/nusantara/2020/04/27/melawan-korona-dan-karhutla-dari-atas-gambut/