Revisi PP Gambut Senjata Restorasi Utama
15 Desember 2016
Kerusakan Gambut Harus Diperbaiki, Bukan Saling Menyalahkan
15 Desember 2016
Show all

Pemetaan Detil Menjadi Fokus Tahun Pertama

 

Pemetaan lahan gambut masih menjadi fokus dari restorasi gambut tahun ini. Untuk itu, Badan Restorasi Gambut masih mengusahakan pemetaan secara mendetil di 600 ribu hektare kawasan gambut yang menjadi target restorasi di tahun pertama mereka.

“Dalam restorasi, kami butuh pemetaan yang mendetil, karena yang kita miliki 1:50.000 itu untuk prencanaan di lanskap,” ucap Kepala BRG Nazir Foead saat berbicara dalam sesi Policy Brief dalam simposium Lahan Gambut Internasional, yang dihelat di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (15/12).

Sementara untuk restorasi lahan gambut, Nazir menginginkan agar pemetaan dapat mencapai skala 1:2.500. Untuk itu, pemetaan mendetil tersebut tengah dikerjakan dengan menggunakan teknologi Pengukuran Jarak dan Deteksi Cahaya (LiDAR).

Jika berhasil, maka Indonesia dikatakan Nazir akan mengukir sejarah. Pasalnya, teknologi LiDAR sendiri merupakan teknologi yang umumnya dipakai untuk perencanaan tata kota.

“Tapi ini untuk gambut, jadi butuh daya dan tenaga yang tidak kecil,” terang Nazir.

Teknologi LiDAR yang merupakan metode pengukuran jarak dengan menggunakan laser yang ditembakan melalui pesawat kecil untuk melihat objek yang diukur sendiri sudah diperkenalkan BRG pada Oktober lalu. Dengan bantuan Pemerintah Norwegia dan World Resources Institute (WRI) Indonesia, pemetaan dilakukan di Sumatera Selatan, tepatnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

“Awalnya kami harapkan dapat selesai (pemetaan) pada November, tapi molor, jadi kami harapkan dapat selesai pada awal tahun depan,” imbuh Nazir.

Kendala yang terjadi, lanjut Nazir, adalah pada kondisi musim hujan yang cukup basah. Akibatnya, pesawat yang melakukan pemetaan tidak dapat berjalan maksimal, karena penerbangan dan pemetaan harus dilakukan pada saat kondisi cuaca cerah.

Sementara itu, Badan Informasi Geospasial (BIG), yang bekerjasama dengan BRG, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) serta Kementerian Pertanian menyatakan tengah melakukan pemetaan skala 1:1.500 dengan bantuan foto dan citra dari udara. Kepala BIG Hasanuddin Zainal Abidin yang turut hadir dalam simposium tersebut menyatakan pemetaan tersebut bertujuan untuk menentukan intervensi restorasi di tingkat tapak dan penutupan kanal untuk pengelolaan air.

“Dan juga masih ada kompetisi Peat Prize yang bertujuan untuk menentukan metoda pemtaan gambut yang tepat,” ucapnya.

Diakatakan dia, perlombaan yang bersifat ambisius tersebut dilakukan untuk menentukan metode pemtaan gambut yang bersifat spasial dan tiga dimensi. Metode yang menang akan dipertimbangkan untuk memperbaharui Standar Nasional Indonesia (SNI) mengenai Pemetaan gambut.

Pemetaan gambut mendesak untuk dilakukan. Pasalnya, itu dapat menjadi salah satu cara dalam menangkal perubahan iklim.

“Dalam dokumen NDC kita, 63% emisi kita berasal dari perubahan peruntukan lahan dan kebakaran lahan gambut dan lahan, maka harus ada transformasi,” papar dia.

Saat ini, lanjut dia, kompetisi Peat Prize telah memasuki tahapan kedua, yaitu tahapan pengembangan solusi, di mana ke-10 tim sedang uji coba metode mereka di lapangan. 10 tim tersebut merupakan hasil saringan dari 44 tim dari 10 negara kontestan.

Salah satu syaratnya,  dalam tiap tim harus ada peneliti Indonesia.

“Bulan Mei thn depan, dewan penasihat ilmiah akan memilih 3 finalis, sebelum pemenang akan dipilih di bulan Oktober,” terang dia.