Pemerintah Mantapkan Koordinasi Guna Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut di Riau
Kuliah Kerja Nyata Desa Gambut Sejahtera
15 November 2016
Dukungan Riset dan Kerja Sama Universitas di Jepang untuk Restorasi Gambut
15 November 2016
Show all

Pemerintah Mantapkan Koordinasi Guna Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut di Riau

Jakarta, 21 Juli 2016 – Merespon keberadaan titik-titik panas dan kebakaran hutan dan lahan gambut di berbagai tempat, khususnya di Riau, Pemerintah dan pemerintah daerah memantapkan koordinasi untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran.

Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead, dan Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Teten Masduki, meninjau lokasi rawan kebakaran di Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar. Di situ, pada bulan Mei 2016, BRG bersama Pemerintah Provinsi Riau, Pemerintah Kabupaten Kampar dan Pemerintah Desa Rimbo Panjang memasang 50 unit sumur bor. Pemasangan sumur bor merupakan salah satu respon cepat penanganan kebakaran gambut. Sumur bor memiliki multi-fungsi antara lain sumber air untuk pemadaman kebakaran dan pembasahan gambut serta penyedia air bersih bagi warga. Rencana nya pada tahun ini BRG akan membangun kembali 500 sumur bor baru yang akan ditempatkan pada wilayah-wilayah gambut yang rawan terbakar di provinsi Riau.

BNPB, Kementerian LHK, BRG dan BMKG telah bersinergi dan mengembangkan cara kerja efisien di dalam kegiatan pencegahan dan penanggulangan kebakaran. Informasi titik panas dan perubahan cuaca secara rutin disampaikan BMKG. BNPB, Kementerian LHK dengan dukungan TNI/Polri, Pemda dan Masyarakat Peduli Api bahu-membahu melakukan kegiatan pemadaman di lapangan. BRG mulai melakukan aksi restorasi di tingkat tapak dengan pembangunan sumur bor dan konsultasi bersama masyarakat. Di sisi yang lain, pemerintah daerah Riau menunjukkan komitmen lebih kuat untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan gambut yang terus berulang selama 18 tahun terakhir.

“Dalam rangkaian pengelolaan gambut, restorasi merupakan kegiatan paling akhir, berupa upaya untuk memulihkan ekosistem gambut yang terbakar. Upaya pencegahan kebakaran merupakan kegiatan penting dalam pengelolaan ekosistem gambut. Kami menyadari, bahwa peran masyarakat dalam upaya pencegahan sangat diperlukan. Keberadaan Masyarakat Peduli Api sangat penting karena menjadi ujung tombak deteksi dini kebakaran lahan gambut,” demikian disampaikan Kepala BRG.

Sementara itu pada 22 Juli, dalam rangkaian acara peringatan Hari Lingkungan Hidup yang berpusat di Kabupaten Siak dan dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kepala Kantor Staf Presiden, BRG dan Pemerintah Kabupaten Siak mencanangkan kegiatan pengembangan alternatif ekonomi lokal di lahan gambut melalui pengembangan perlebahan (apiary) dan perikanan, peternakan dan komoditas ekonomi lain yang ramah gambut. BRG sedang mempersiapkan program Desa Peduli Gambut yang pada tahun 2016 akan dilakukan pada 60 desa. Termasuk di dalam program ini adalah pemberdayaan ekonomi lokal.

Kontak:

 

Myrna A. Safitri

Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan

Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia

Gedung Sekretariat Negara Lantai 2

Jl. Teuku Umar 10, Menteng, Jakarta Pusat 10350

Tel: (021) 319 012608 , HP: 0816861372