Rangkuman Acara Simposium Lahan Gambut Internasional 2016
16 Desember 2016
Masyarakat Rindu Bibit Ramah Gambut
19 Desember 2016
Show all

Merevitalisasi Tanjung Taruna Dengan Ternak Sapi

Kepala BRG Nazir Foead, tengah berbincang di dalam kandang sapi yang menjadi proyek percontohan pengembangan ekonomi masyarakat di atas gambut, Desa Tanjung Taruna, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Senin (19/12).

Kepala BRG Nazir Foead, tengah berbincang di dalam kandang sapi yang menjadi proyek percontohan pengembangan ekonomi masyarakat di atas gambut, Desa Tanjung Taruna, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Senin (19/12).

Salah satu konsep pemulihan gambut tidak hanya melulu berfokus pada ekosistem yang bersifat lembap tersebut. Masyarakat sebagai pihak yang hidup di atas ekosistem tersebut juga harus menjadi perhatian khusus.

Pasalnya, masayarakat adalah pihak yang paling merasakan dampak atas restorasi gambut. Jika masyarakat tidak dipersiapkan dengan baik, bukan tidak mungkin ada pengeringan lahan gambut tersebut untuk kemudian dialihfungsikan sebagai lahan pertanian. Padalah, pengeringan lahan gambut justru memperbesar potensi kebakaran.

Setali tiga uang, Badan Restorasi Gambut (BRG) menetapkan konsep revitalisasi kehidupan masyarakat sebagai salah satu fokus restorasi yang mereka jalankan. Yang terbaru, ialah percobaan untuk memulai ternak sapi di atas lahan gambut di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Selain sebagai pendapatan bagi warga, juga berfungsi untuk mengatasi masalah impor daging sapi yang selama ini menghantui Indonesia.

Jenis sapi yang coba dikembangkan ialah Sapi Bali. Pertimbangannya, Sapi tersebut adaptif terhadap kondisi pakan serta iklim yang berbeda dari daerah asalnya. “Sementara kalau sapi dari Australia, yang biasa kita impor, itu memang gemuk, tapi tidak tahan terhadap kondisi iklim kita,” ucap Robertho Imanuel Aden selaku Manajer Proyek Pengembangan Sapi di ekosistem gambut Desa Tanjung Taruna, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, senin (19/12).

Sebagai proyek awal, disiapkan 10 Sapi jantan untuk penggemukan, 40 sapi betina untuk inseminasi buatan dan 2  sapi jantan untuk pembuahan alami. Target awal, masyarakat dapat merasakan hasilnya dalam 5 bulan dengan menjual sapi yang diproyeksikan sebagai sapi penggemukan. Uang tersebut, diharapkan dapat dimanfaatkan untuk operasional masyarakat peduli api (MPA) yang membutuhkan biaya untuk perawatan peralatan sumur bor mereka.

“Kami siapkan Rp 1,2 Miliar untuk 4 tahun dalam menjalankan program ini,” ucap Robertho singkat.

Dalam 4 tahun, Robertho juga berharap agar masyarakat dapat menumbuhkan jenis rumput gajah dan peking sebagai pangan utama. Pasalnya, rumput Kumpai Minyak yang saat ini dijadikn pakan tidak terlalu memiliki kandungan mineral yang baik. Akibatnya, Robertho dan tim mengajarkan masyarakat untuk menambahkan konsentrat sebagai pakan tambahan.

Ke depannya, tidak hanya daging sapi saja yang diharapkan untuk dapat dimanfaatkan. Konsep pemanfaatan kotoran sapi tersebut untuk dijadikan kompos yang menumbuhkan rumput untuk dijadikan pakan ternak juga coba dikembangkan. “Selain itu, kami juga coba agar kotorannya dapat dijadikan biogas. Jadi kami manfaatkan metannya untuk kemudian jadi bahan bakar,” tambah Robertho.

Sementara itu, Deputi bidang Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan BRG Alue Dohong dalam kesempatan yang sama menyatakan pengembangan sapi bali juga berfungsi untuk memanfaatkan kumpai minyak yang tumbuh subur di kawasan gambut. Di Desa Tanjung Taruna, secara khususnya, terdapat 2 hektare kawasan yang menjadi tempat tumbuh Kumpai Minyak.

“Tapi ke depannya kami ingin menjadikan pakan rumput gajah, ini juga merupakan permintaan masyarakat,” terang Alue.

Menurut dia, konsep pengembangan keekonomian di kawasan gambut perlu mendengarkan aspirasi masyarakat. Oleh karena itu, BRG rajin untuk memfasilitasi dan mengumpulkan seluruh aspirasi masyarakat tersebut untuk kemudian coba diaplikasikan sebagai pengembangan ekonomi gambut berbasis komunitas lokal.