Booklet Jambore Masyarakat Gambut 2016
17 November 2016
Ruslah, Lewat Purun Tak Kenal Lelah Berbagi Ilmu dengan Perempuan Lain
20 November 2016
Show all

Menganyam Purun, Merajut Harapan Gambut Lestari

http://www.mongabay.co.id/2016/11/19/menganyam-purun-merajut-harapan-gambut-lestari/

Salasiah bersama rekannya mengajarkan teknik menganyam purun pada beberapa pengunjung. Foto: Elviza Diana

Salasiah bersama rekannya mengajarkan teknik menganyam purun pada beberapa pengunjung. Foto: Elviza Diana

Jari-jemari Salasiah,  bergerak lincah menyusun helai demi helai purun yang sudah terjalin rapi. Warga Desa Tanggul Dalam Kabupaten Banjar Baru Kalimantan Selatan, ini sudah tak asing lagi dengan tanaman purun.

Purun merupakan tanaman khas lahan rawa gambut, biasa menjadi berbagai macam kerajinan berjenis purun tikus (Eleocharis dulcis). Tanaman ini berwarna abu-abu hingga hijau mengkilat, daun mengecil sampai ke bagian basal, pelepah tipis seperti membran. Ujung asimetris, berwarna cokelat kemerahan. “Untuk bahan anyaman, purun tikus ini dapat menjaga tanaman petani dari serangan serangga,” katanya.

Sebelum dianyam,  purun terlebih dahulu diolah menjadi bahan baku. Mengambil purun biasa ketika siang hari saat air sedang surut. Sehabis mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mereka bersiap mengambil purun-purun liar di sepanjang jalan dan rawa.  Dengan mengandalkan sebilah parang kecil ataupun sabit, mereka siap memanen purun-purun ini.

Setelah itu, purun dijemur sampai kering, bagian pangkal dan ujung dipotong agar bersih. Purun bersih siap diwarnai agar menghasilkan anyaman beraneka warna.

Pewarnaan purun dengan merendam ke air mendidih dan sudah ditambahi pewarna. Guna memperkuat dapat tahan dan pewarna tak mudah pudar, setelah direndam, katanya, purun-purun kembali dijemur atau diangin-anginkan beberapa jam.

“Terakhir purun ditumbuk dengan kayu ulin, ini agar serat mudah dianyam. Purun yang ditumbuk sebagai bahan baku,”ujar dia.

Salasiah berama sekitar 35 perempuan dari tiga Desa yaitu Desa Margasari, Desa Tambak Sari Panji, Kalsel, sudah tiga tahun ini menekuni kerajinan berbahan dasar purun.

Mereka didampingi Institut Bentang Meratur, fokus isu pemberdayaan masyarakat. Ema, Direktur Institut Bentang Meratur mengatakan, pemberdayaan perempuan perajin purun guna meningkatkan perekonomian keluarga masyarakat di kawasan gambut, dengan berbasis tanaman lokal.

“Kami melihat purun tanaman khas gambut tumbuh liar dan subur di semua tempat yang belum banyak dimanfaatkan. Dengan pelatihan kita berharap purun menjadi salah satu alternatif ekonomi dari gambut.”

Menurut Salasiah, seiring perkembangan zaman, anyaman tikar terkesan kurang diminati. Dia menduga, karena desain perajin kurang mendukung. “Kami menjual tikar 10 kaki atau 2,8 meter persegi hanya Rp40.000. Kalau kerajinan seperti tas dan sandal, kemampuan kami masih minim,” katanya.

Salasiah berharap, ada pelatihan dalam mengembangkan kerajinan hingga tak hanya tikar ataupun acil-acil (karung untuk padi).

Ema menyebutkan dari beberapa desa yang didampingi , memang Desa Tanggul Dalam ini masih perlu pembinaan dalam modifikasi dan desain-desain baru dalam teknik anyaman. “Kalau soal anyaman, semua perempuan di desa ini bisa menganyam sebatas membuat tikar dan acil-acil saja. Namun untuk modifikasi dan pengembangan ke berbagai produk belum terlalu dikuasai. Kita akan melakukan berbagai pelatihan.”

Purun tikus tumbuh liar di Desa Tanggul Dalam Banjar Baru, Kalsel. Foto: IBM

Purun tikus tumbuh liar di Desa Tanggul Dalam Banjar Baru, Kalsel. Foto: IBM

Berjuang selamatkan gambutSekitar 20 hektar lahan gambut di Desa Tanggul Dalam, Kabupaten Banjar Baru,  ditumbuhi tanaman purun. Lahan itu, awalnya wilayah kelola perusahaan,  Galuh Cempaka yang akan menambang batu permata di Desa Tanggul Dalam.

Berkat kegigihan masyarakat, Galuh Cempaka berhasil ditolak dan batal menambang.  Mujiatni, warga Desa Tanggul Dalam mengatakan, saat ini purun-purun tumbuh subur di sana menjadi berkah bagi mereka.

“Kami tak perlu lagi susah mencari bahan baku. Purun banyak.”

Berbeda Desa Tanggul Dalam, Desa Margasari Kabupaten Tapin,  saat ini harus berjuang mnyelamatkan purun. Desa mereka dikepung perkebunan sawit perusahaan,  dan harus pasrah jika tak ada lagi tanaman itu disana.

Wartinah, perajin purun menyesalkan, alih fungsi rawa gambut menjadi perekebunan sawit berdampak pada purun. “Kalau makin tinggi alih fungsi, besok kita tak bisa mendapatkan purun lagi. Mungkin kita akan coba belajar menganyam daun sawit untuk jadi kerajinan,” katanya berkelakar.

Kini mendapatkan purun, mereka harus mengayuh sampan, seperti di Desa Tambak Sari Panji, Kaurgading, Kabupaten Amuntai, daerah penghasil kerajinan purun terbesar di Kalsel ini juga sudah kesulitan bahan baku.

Mujahadah, perajin purun Desa Tambak Sari Panji mengatakan, harga bahan baku mentah bisa mencapai dua kali lipat dari daerah lain.

“Kalau tempat lain harga purun basah hanya Rp4.000, kering Rp5.000 per ikat. Di Amuntai bisa Rp10.000 per ikat untuk purun kering. Purun tak hanya diolah menjadi tikar tapi tas, sandal dan berbagai peralatan rumah tangga,” katanya.

Animo masyarakat tinggi dalam mengembangkan usaha kerajinan purun ini, perlu dipikirkan untuk pembudidayaan purun.

Menurut Ema, Institut Bentang Meratur perlu mengembangkan budidaya purun ini. “Biasa kecepatan tumbuh tiga hingga bulan.”

Purun siap tumbuk pakai kayu ulin. Foto: IBM

Purun siap tumbuk pakai kayu ulin. Foto: IBM