Masyarakat Sebagai Garda Depan Perlindungan Gambut 2017: Catatan terhadap capaian kerja BRG pada tahun kedua
Pedoman Penyusunan Peraturan di Desa untuk Mendukung Restorasi Gambut
19 Desember 2017
Pengumuman Seleksi Calon Tenaga Fasilitator Desa Peduli Gambut Tahun 2018
29 Desember 2017
Show all

Masyarakat Sebagai Garda Depan Perlindungan Gambut 2017: Catatan terhadap capaian kerja BRG pada tahun kedua

Jakarta, 28 Desember 2017 – Mengakhiri tahun kedua restorasi gambut, Badan Restorasi Gambut (BRG) mencatat beberapa capaian dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. Sepanjang tahun 2017, BRG melakukan kegiatan pembasahan ekosistem gambut, pendampingan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, perencanaan restorasi dan pemetaan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG), pembangunan demonstration plot pertanian gambut terpadu serta pemasangan alat pemantau tinggi muka air.

Kepala BRG, Nazir Foead mengatakan: ““Restorasi gambut tidak sekadar membasahi lahan gambut dan menanam kembali untuk memperbaiki ekosistem yang rusak, tetapi juga memberdayakan masyarakat yang hidup di lahan gambut.” Hal itu disampaikan pada diskusi bersama media hari ini. Dalam Rencana Strategis BRG 2016-2020 disebutkan perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut berkaitan erat dengan pencapaian manfaat ekonomi, sosial, dan – yang paling utama – ekologi.

Myrna A. Safitri, Deputi Edukasi Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan BRG mengatakan BRG pada tahun ini memfasilitasi 75 desa dan kelurahan di 7 provinsi target restorasi gambut. Desa-desa itu tersebar di Riau (11 desa), Jambi (10), Sumatera Selatan (15), Kalimantan Barat (16), Kalimantan Tengah (10), Kalimantan Selatan (10), Papua (3). “Total luas wilayah desa dan kelurahan itu 1.180.441 hektar dengan areal lahan gambut yang dikelola masyarakat sekitar 878.326 hektar. Dari luas itu, 267.111 hektar menjadi target restorasi gambut. BRG menjalankan program Desa Peduli Gambut dimana masyarakat menjadi garda depan pemeliharaan ekosistem gambut.”

BRG telah melakukan upaya revitalisasi mata pencaharian masyarakat. Alue Dohong Deputi Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan melaporkan ada 101 kelompok masyarakat (Pokmas) telah dibina untuk mengelola lahan tanpa bakar, pengembangan komoditi lokal, perikanan air tawar, peternakan, dan budidaya lebah madu. Sampai saat ini, jumlah warga yang melakukan pembakaran gambut makin berkurang. Melalui revitalisasi mata pencaharian, telah tumbuh kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem gambut.

Sepanjang 2017 BRG memfasilitasi pembangunan infrastruktur pembasahan gambut berupa sumur bor, sekat kanal, dan penimbunan kanal, di enam provinsi; Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Total luas pembasahan terdampak sekitar 200 ribuan hektar, yang terdiri dari 103.476 hektar sebagai dampak pembasahan infrastruktur yang dibangun BRG dan 98.978 hektar dari kegiatan pembasahan yang dilakukan para mitra. Dari luas itu, lebih 60 persen – sekitar 62.126 hektar – berada di Kalimantan Tengah. Sumur Bor yang dibangun BRG 5.900 unit, sekat kanal yang dibangun bersama masyarakat dan perguruan tinggi 1.849, dan kanal- kanal yang ditimbun permanen ada 110 titik. Sampai pertengahan Desember 2017, BRG telah bekerja melakukan kegiatan restorasi dengan seluruh aspek teknis, sosial dan ekonomi pada sekitar satu juta hektar.

Capaian lainnya adalah penyusunan Rencana Restorasi Ekosistem Gambut (RREG) untuk tujuh provinsi target restorasi, RREG setiap provinsi, Rencana Tindak Tahunan dan pemetaan Kesatuan Hidrologis Gambut. Pemetaan dilakukan untuk KHG Sungai Lalan-Sungai Merang, Sungai Sugihan-Sungai Lumpur (keduanya di Propinsi Sumatera Selatan), Sungai Tapung Kiri-Sungai Kiyap (Propinsi Riau), Sungai Ambawang-Sungai Kubu (Kalimantan Barat), Sungai Utar-Sungai Serapat (Kalimantan Tengah/Kalimantan Barat), Sungai Barito-Sungai Alalak dan Sungai Maluka-Sungai Martapura (Kalimantan Selatan). Sebelumnya, BRG memetakan ekosistem gambut di KHG Sungai Saleh-Sungai Sugihan, KHG Sungai Cawang-Sungai Air Lalang (Sumatera Selatan), dan KHG Sungai Kahayan-Sungai Sebangau (Kalimantan Tengah).

Untuk mendukung monitoring ekosistem gambut, BRG membuat titik pengamatan tinggi muka air lahan gambut. Data tinggi muka air dapat diakses secara real time. Pada 2017 dipasang 40 alat. Titik pengamatan terbanyak terdapat di Sumatera Selatan, yaitu delapan. Riau dan Jambi masing-masing tujuh. Hanya ada satu titik pengamatan tinggi muka air lahan gambut di Kalimantan Barat, tujuh lainnya di Kalimantan Tengah.

Pemantauan tinggi muka air lahan gambut menjadi penting untuk mengidentifikasi potensi kebakaran lahan dan hutan. Lahan gambut yang kering menjadi pemicu kebakaran. Pada tahun 2015, kebakaran lahan gambut menimbulkan kerugian triliunan rupiah dan menciptakan bencana asap regional.

Terkait dengan supervisi terhadap pembasahan gambut di lahan konsesi, BRG pada tahun ini menyiapkan pedoman supervisi. BRG menyambut baik upaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang telah mengarahkan pemegang konsesi untuk menuntaskan rencana pemulihan. Pada tahun 2018, BRG akan menjalankan supervisi kepada perusahaan dalam kegiatan restorasi gambut. Seluas 1,4 juta hektar areal target restorasi gambut ada di areal konsesi kehutanan dan kebun.

Kegiatan restorasi yang dilakukan BRG bersifat komprehensif dan inklusif, artinya melibatkan semua pihak. Tidak sekadar membasahi, namun restorasi juga berupaya menjadikan masyarakat sebagai garda depan pengelolaan gambut secara bijak dan pencegahan dini bencana kebakaran gambut.

Unduh (PDF)