Merevitalisasi Tanjung Taruna Dengan Ternak Sapi
19 Desember 2016
Kunci Pembasahan Gambut Pada Jaga Muka Air
19 Desember 2016
Show all

Masyarakat Rindu Bibit Ramah Gambut

Para Peserta Simposium Lahan Gambut Internasional di tengah Kebun Pembibitan Masyarakat, Desa Garung, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah

Para Peserta Simposium Lahan Gambut Internasional di tengah Kebun Pembibitan Masyarakat, Desa Garung, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah

“Kami berharap sekali, kalau memang bisa, berikan lagi bibit supaya tempat ini tidak kosong.” Nada penuh harapan meluncur dari Asmat, selaku kepala kelompok pemberdayaan bibit yang diinisiasi Badan Restorasi Gambut (BRG) di desa Garung, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Dirinya berharap, pembibitan yang dilakukan masyarakat tersebut tidak hanya berhenti pada 8.000 bibit yang tengah disemai tersebut, melainkan berkelanjutan untuk membantu mereka melakukan penghijauan kembali lahan gambut di lahan masyarakat.

Menurut rencana,semua bibit tersebut hendak ditanam di lahan seluas 20 hektare milik masyarakat. Menurut Asmat, yang sudah dilakukan BRG dengan Universitas Palangkaraya di kawasan mereka sudah membantu masyarakat secara ekonomi dengan insentif yang diberikan sebesar Rp 1,5 juta perbulan sebagai upah terhadap penyiraman yang mereka lakukan setiap harinya

“Kami jadi tahu mana saja yang kami butuhkan sebagai tanaman yang harus kami tanam di gambut untuk menjaganya tetap basah,” terang Asmat saat dikunjungi Senin (19/12), sebagai bagian dari Kunjungan Lapangan Simposium Lahan Gambut Internasional di Desa Garung.

Jauh sebelum pendekatan kepada masyarakat dilakukan, masyarakat pada umumnya hanya mengenal tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti karet serta sawit untuk mereka tanam di lahan mereka. “Tapi kami bantu dalam berkomunikasi dengan masyarakat, sekarang mereka tahu apa yang harus mereka tanam di lahan gambut tanpa merusaknya,” terang Pakar Kehutanan dan Rehabilitasi Wetlands Internasional Iwan Tri Cahyo WIbisono dalam kesempatan yang sama.

Sementara dari 8.000 bibit yang hendak ditanam, alokasi tanaman untuk ekonomi sebesar 30% dari total bibit. Sementara 70% sisanya, merupakan tanaman yang berfungsi untuk merestorasi kawasan gambut tanpa harus mengeringkan lahan.

“Jadi konsep yang kami bangun adalah paludikultur,” imbuh pria yang akrab disapa Yoyo tersebut.

Dikatakan Yoyo, konsep paludikultur memungkinkan penanaman tanaman yang berdaya guna tanpa harus melakukan pengeringan. Sementara dari seluruh tanaman yang selama ini dinilai ekonomis oelh masyarakat, dikatakan Yoyo merupakan tanaman eksotis yang justru mengeringkan lahan gambut.

Yoyo sendiri mengaku membutuhkan pendekatan hingga satu bulan untuk meyakinkan masyarakat agar mau melakukan pembibitan dan penanaman tanaman dengan proporsi 70-30 tersebut. “Jadi masyarakat dapat untung, dan ada juga kontribusi untuk lingkungan dengan menanam tanaman restoratif,” imbuh Yoyo.

Menurut rencana, jenis tanaman yang akan ditanaman bergantung dari kedalaman gambut di lahan masyarakat. Semakin dalam gambut tersebut, maka tanaman yang akan ditanaman lebih bersifat restoratif.

“Yang jelas dari 20 hektare masih banyak lahan atau ruang kosong, dan kami akan bantu lagi dengan jenis tanaman lain,” tutup Yoyo.