Kisah Dai Gambut Berdakwah di Desa Gambut

Sejak tahun 2016, BRG merekrut dan memilih para dai atau tokoh agama setempat untuk dijadikan mitra kerja revitalisasi lahan gambut di tujuh provinsi di Indonesia. Sampai saat ini sudah ada 257 dai yang tersebar di berbagai pelosok desa gambut. Salah satu alasan untuk mulai melibatkan para pendakwah dan tokoh agama lokal karena pendekatan dari aspek moral dan keagamaan dinilai efektif dalam mendekati masyarakat, mengajak mereka serta mempengaruhi cara pandang masyarakat dalam melindungi dan merawat gambut.

Kesempatan kali ini kita temui, Ustadz Mustangin (45), salah seorang pendakwah dari Desa Tanjung Makmur, Kecamatan Pedamaran Timur, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan. Kehidupan sehari-hari beliau adalah seorang petani di desanya. Aktivitas lainnya adalah menjadi pengurus dewan kemakmuran masjid dan membantu mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA).

Ustadz Mustangin (kanan) salah satu pendakwah yang bertugas di pedesaan gambut di Sumatera Selatan. (Foto: BRG)

Beliau dikenal ramah dan rendah hati sehingga banyak anak-anak senang dibimbing membaca dan menghafal Al-Qur’an. Bagi dia, menjadi pendakwah adalah jalan hidup yang tidak boleh dijadikan beban, apalagi bagi orang yang paham agama, wajib memberikan bimbingan. Karena itu ketika ada ajakan menjadi Dai Peduli Gambut (DPG) dari pihak desa tahun 2019 lalu, Ustadz Mustangin langsung ikut serta karena ingin terlibat langsung dalam pemulihan gambut agar tidak terbakar lagi. “Saya gabung menjadi dai gambut tahun 2019. Tapi di Sumsel memang mulai ada tahun 2019 waktu itu ada tiga orang mewakili Sumsel,” ucapnya.

Senang

Ustadz Mustangin senang terlibat penuh membantu pemerintah (BRG) menyadarkan masyarakat di pedesaan gambut terkait pesan-pesan agama dan mengelola lahan gambut tanpa bakar. Tugas ini baginya adalah amanah, karena dia percaya hidup di dunia itu sudah pasti bertemu dengan rasa kecewa atau rasa bahagia. Susah senang menjadi pendakwah gambut akan dijalaninya. Sebab, jalan dakwahnya itu bukan semata untuk dirinya tetapi untuk agama, negara, bangsa dan untuk menyelamatkan lingkungan sehingga dinikmati oleh anak cucu kita ratusan tahun kemudian. “Intinya saya bahagia menjadi dai gambut dan menerimanya dengan senang hati,” ujarnya.

Luar biasa pengabdian Ustadz Mustangin, salah satu ujung tombak program pemulihan gambut di tingkat tapak. Bagaimana kisah lengkapnya, simak tautan berikut:

https://mitra.nu.or.id/post/read/119450/suka-duka-ustadz-mustangin-berdakwah-di-perdesaan-gambut