Jumlah Hotspot di Lahan Gambut Menurun Hingga Empat Kali Lipat

Sekat kanal bermanfaat menahan air untuk menjaga kelembaban lahan gambut

“Hingga Agustus 2020 tingkat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia berkurang jauh pada 2019, luasan hotspot juga berkurang empat kali lipat dari tahun sebelumnya,” kata Nazir Foead, Kepala Badan Restorasi Gambut RI dalam Webinar Nasional Peluang dan Tantangan Kelembagaan Ekonomi Dalam Mendukung Pembangunan Pedesaan Gambut, pada hari Selasa, 1 September 2020. Nazir mengatakan, jika dibandingkan dengan kebakaran lahan di negara lain, Indonesia cukup berhasil. Perlu diketahui Indonesia memiliki 22,5 juta hektar area gambut dan upaya pencegahan yang efektif antara kementerian, lembaga, masyarakat dan swasta sudah membuahkan hasil.

Dia menyebut, hingga Agustus 2020 di Brasil terdapat 1,5 juta hektare lahan yang terbakar dan di Amerika Serikat ada 700 ribu hektare. “Sementara Australia hingga Mei 2020 terdapat 18,6 juta hektare,” kata Nazir. Meski begitu, Nazir mengajak upaya pencegahan ini tidak boleh lengah. Dia menyarankan upaya penekanan pada tiga pendekatan yaitu pembasahan lahan, revegetasi tata ekosistem gambut, dan penguatan ekonomi warga di sekitar area gambut. Melalui pendekatan lanskap, pihaknya telah menggandeng 590 desa peduli gambut dengan total lahan milik masyarakat dan pemerintah seluas 4,6 juta hektare.

Sementara itu, menurut Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG, Myrna A. Safitri, pendampingan terhadap Desa Peduli Gambut perlu dikuatkan, terutama sektor kelembagaan dan kesejahteraan masyarakat. “Kami dari awal mencoba mengintegrasikan restorasi gambut, khususnya pemberdayaan ekonomi perencanaan pembangunan desa, RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) Desa, ataupun RKP (Rencana Kerja Pemerintah) Desa, turunannya, untuk bisa melihat komitmen desa, APBDes untuk kegiatan restorasi gambut,” ucap Myrna.

“Pembentukan dan keterlibatan inkubator bisnis usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), BUMDes (Badan Usaha Milik Desa), koperasi, serta pihak pemerintah dan swasta bisa mewujudkan ketahanan lingkungan lingkungan, ekonomi, dan sosial di area restorasi gambut,” ujar dia. Dengan pendekatan lanskap, Myrna berharap ada kesinambungan dan kerja sama antar desa peduli gambut. Selain koperasi dan kelompok usaha bersama, saat ini pelaku ekonomi dari desa peduli gambut sudah bekerja sama dengan market place untuk memasarkan produknya. Selain produk pangan, masyarakat yang mendapatkan pendampingan dari BRG juga telah merambah sektor ekonomi kreatif. “Produk kerajinan dan fashion, serta ekowisata menjadi salah satu sektor yang sedang tumbuh,” ujar dia.

Silakan baca lebih lanjut beritanya di:

https://mediaindonesia.com/read/detail/341521-jumlah-hotspot-di-lahan-gambut-berkurang-empat-kali-lipat