Jambore Masyarakat Gambut 2016 Bangkitkan Semangat Restorasi
Jambore Masyarakat Gambut Pertemukan Masyarakat dari 7 Provinsi Prioritas
6 November 2016
Kampanye Selamatkan Gambut Lewat Komik
6 November 2016
Show all

Jambore Masyarakat Gambut 2016 Bangkitkan Semangat Restorasi

http://www.kilasjambi.com/index.php/seputar-jambi/item/2602-jambore-masyarakat-gambut-2016-bangkitkan-semangat-restorasi/2602-jambore-masyarakat-gambut-2016-bangkitkan-semangat-restorasi

Pembukaan jambore masyarakat gambut 2016 di Kota Jambi

Pembukaan jambore masyarakat gambut 2016 di Kota Jambi

KILAS JAMBI – Jambore masyarakat gambut yang diselenggarakan Badan Restorasi Gambut (BRG) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemerintah Provinsi Jambi mewadahi forum pertemuan antarlembaga dalam membangkitkan semangat restorasi lahan gambut di Indonesia. Jambore masyarakat gambut yang digelar di Gelanggang Olah Raga (GOR) Kota Baru Jambi pada 5 November 2016 tersebut secara resmi dibuka Kepala BRG Republik Indonesia, Nazir Foead.

Hadir dalam jambore ini Sekertaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Bambang Hendroyono, Direktur Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu pada Kementerian Desa dan Daerah Tertinggal, Transmigrasi Suprayoga Hadi, serta Wakil Gubernur Jambi Fachrori Umar dan pejabat lainnya.

Kepala BRG, Nazir Foead dalam sambutannya mengatakan, jambore ini adalah wujud kepedulian BRG dalam memberikan wadah bagi masyarakat petani gambut, MPA, perangkat desa, para inovator dan organisasi masyarakat sipil untuk saling menguatkan dan bersinergi secara efektif.

“Forum seperti ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, jangan sampai hanya menjadi upacara seremonial saja. Masyarakat menggali informasi sebanyak-banyaknya, serta pihak lain mendengarkan pengalaman masyarakat mengelola gambut dengan baik,” kata Nazir.

Dia juga mengajak masyarakat yang tinggal di sekitaran lahan gambut untuk mempersiapkan dalam menghadapi musim kemarau panjang yang diprediksi akan terjadi pada 2017. Langkah kewaspadaan tersebut menurut Nazir, perlu dilakukan untuk terus menekan terjadinya kebakaran di lahan gambut yang mengakibatkan bencana kabut asap dan juga kerusakan pada lahan gambut. Potensi lahan gambut di Indonesia seluas 15-20 juta hektare yang tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua.

Dari luasan terrsebut, BRG kata Nazir telah menentukan peta secara indikatif lahan gambut terdegradasi (rusak) yang berada di tujuh provinsi seluas 2,4 juta hektare sehingga perlu dilakukan restorasi (pemulihan) yang ditargetkan hingga tahun 2020. Menurut dia, restorasi lahan gambut memang harus dilakukan agar lahan tidak mudah terbakar dan juga bahkan program tersebut dapat mendongkrak perekonomian sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sehingga harus ditindaklanjuti oleh para pihak.

Secara khusus keberadaan lahan gambut harus dijaga dari berbagai kerusakan, karena lahan gambut dapat menjaga kestabilan iklim dunia khsusunya guna mencegah pemanasan global. Setiap lapisan gambut, dari permukaan terluar hingga dalam dapat menyerap karbon.

Selain itu dalam skala lokal lahan gambut berfungsi sebagai pintu air alami padat akan serat, lahan gambut bisa menyerap air sebanyak lima hingga lima belas kali dari bobot keringnya. BRG mencatat ada 2.945 yang tersebar di tujuh provinsi di Indonesia berada di areal lahan gambut. Dari total desa tersebut yang berada di areal restorasi sebanyak 1.205 desa.

“Dari jumlah desa di areal restorasi itu kami menargetkan hingga tahun 2020 ada 1.000 desa yang akan diintervensi supaya hutan dan lahan gambut dapat dikelola dengan baik,” kata Myrna, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG.

Dijelaskannya, dalam intervensi di desa yang berada di areal gambut tersebut perlu dilakukan supaya keberadaan lahan gambut tetap berkelanjutan. “Nantinya dari 1.000 desa tersebut 300 desa diintervensi oleh APBN, 200 desa menggunakan dana donor dan 500 desa dari korporasi,” katanya menjelaskan.

Myrna A Safitri mengatakan, jambore masyarakat gambut ini diikuti sebanyak 1.045 peserta. Mereka datang dari tujuh provinsi di Indonesia. Yakni Papua, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau dan Jambi yang secara khusus memiliki potensi gambut di Indonesia.

Adapun peserta yang mengikuti jambore tersebut datang dari berbagai kalangan diantaranya sebagian besar petani gambut, masyarakat peduli api (MPA), perangkat desa dan para pendamping serta 34 Organisasi Masyarakat Sipil, demikian Myrna A. Safitri.

Berbagai produk unggulan yang dihasilkan para masyarakat desa di wilayah gambut juga ditampilkan pada jambore tersebut yang digelar hingga 7 November. Selain itu ada juga berbagai pelatihan dan pondok belajar terkait dengan pengelolaan produk yang dihasilkan pada lahan gambut yang berbasis kemasyarakat dan kearifan yang berkelanjutan.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jambi Fachrori Umar dalam sambutannya mengucapkan terima kasih karena Provinsi Jambi telah dipercaya menjadi tuan rumah pada pelaksanaan Jambore Masyarakat Gambut (JMG) 2016. Fachrori berharap jambore ini menjadi momen silaturahmi dan koordinasi elemen kepentingan untuk target merestorasi 2,4 juta hektar gambut yabg dicanangkan pemerintah pusat.

“Jambore ini salah satu momentum dalam bersinergi dan berkomitmen mengatasi kerusakan lahan gambut yang terjadi secara masif,” Ia menambahkan. (Ramond)