Cerita dari Tapak – ResamLah, gelang sehat dari tanaman gambut
Transformasi Pengelolaan Gambut Mendesak Dilakukan
16 Desember 2016
Restorasi Gambut Harus Dilakukan Bersama
16 Desember 2016
Show all

Cerita dari Tapak – ResamLah, gelang sehat dari tanaman gambut

 

Pak Abdi Bur, dengan gelang Resam buatannya

Pak Abdi Bur, dengan gelang Resam buatannya

Sulur-sulur akar berwarna cokelat yang telah diolah menjadi “tali” yang melemas, dipilin dan dianyam, sehingga menjadi cincin, gelang, yang menarik dan terlihat etnik. Banyak orang mengira, anyaman aksesoris tersebut adalah dari rotan, dan berasal dari Kalimantan.

“Bukan, bukan rotan dan bukan dari Kalimantan. Kita menyebutnya sebagai Resam. Ini semacam tumbuhan suplir yang bertumbuh liar di Muara Jambi. Di Jambi tumbuhan ini kadang meliar juga di halaman rumah masyarakat. Saya kadang mengambilnya, jadi yang punya rumah senang, “semak”nya di halaman rumah jadi bersih, ” ujar Abdi Nur atau biasa dipanggi Pak AB,  sambil menganyam gelang resam di salah satu tangan pembelinya, di Simposium Lahan Gambut Internasional 2016, di Hotel Borobodur. Ini kali keduanya AB “berpameran” dan memperlihatkan kemahirannya dalam menganyam “tali” Resam. Sebelumnya dia perlihatkan di Jambore Masyarakat Gambut, Jambi, awal November lalu.

Dalam wikipidea disebutkan resam, rasam atau paku andam (Dicranopteris linearis syn. Gleichenia linearis) merupakan jenis paku yang besar yang biasa tumbuh pada tebing-tebing di tepi jalan di pegunungan. Tumbuhan ini mudah dikenal karena peletakan daunnya yang menyirip berjajar dua dan tangkainya bercabang mendua (dikotom). Resam dikenal sebagai tumbuhan invasif di beberapa tempat karena mendominasi permukaan tanah menyebabkan tumbuhan lain terhambat pertumbuhannya. Dalam bahasa Melayu, kata “resam” juga berarti “kebiasaan” atau “adat”, seperti dalam perumpamaan Resam air ke air, resam minyak ke minyak, yang berarti biasanya orang lebih suka bergaul kepada bangsanya sendiri daripada dengan bangsa lain atau bila terjadi perselisihan maka biasanya orang akan berpihak pada bangsanya, sukunya atau kawannya.

Tapi resam yang digunakan AB untuk fashion, gaya dan juga kesehatan. Karena Pak AB bisa mengubahnya menjadi aksesoris fashion seperti, rompi, topi, gelang, cincin, hingga car seat cover.

cincin resam

cincin resam

Memproses tanaman resam ini hingga menjadi kerajinan tidaklah sulit. Batang tanaman Resam ini pertama – tama dibersihkan dengan cara direndam air kemudian di kupas kulitnya hingga mendapatkan bagian dalamnya. Setelah itu dapat langsung dianyam untuk bisa dibuat berbagai kerajinan.

Kerajinan yang dibuat Pak AB ini disebut ResamLah. Kata Resam berasal dari Bahasa Melayu yang merepresentasikan warna cokelat sebagai simbol dari lahan gambut itu sendiri. Sedangkan kata Lah memiliki arti perbuatan. Jadi keseluruhan kata Resamlah bisa diartikan sebagai tindakan yang harus dilakukan untuk menghasilkan dan meningkatkan perekonomian yang lebih baik di sekitar lahan gambut.

Bapak AB sendiri sudah mengerjakan kerajinan ini sekitar tahun 2005. Awal mulanya beliau tidak sengaja melihat seseorang menggunakan tanaman Resam sebagai pengganti tali untuk mengikat. Dari sanalah timbul ide untuk menghasilkan kerajinan anyaman dari bahan baku tanaman Resam tersebut. Satu kerajinan yang paling menarik perhatian adalah berupa cincin. Cincin ini ketika di pakai di jari yang berbeda dapat menghasilkan khasiat yang berbeda pula. Misalnya, ketika di pakai di jari manis, cincin ini memiliki khasiat untuk mengatasi rasa galau, dan permasalahan pada sistem pencernaan. Ketika dipakai di jari tengah cincin ini berkhasiat untuk mengurangi tingkat emosi negative, rasa marah, dan sakit hati.

gelang resam

gelang resam

Sedangkan ketika dipakai di jari telunjuk, cincin ini berkhasiat untuk kesehatan ginjal, nyeri otot dan rasa taku. Kalau ditelaah lebih lanjut, cincin ini menekan pusat saraf dan pembuluh darah yang ada di dalam jari, jadi cincin ini dapat berkhasiat untuk kesehatan.  Untuk kerajinan yang dihasilkan Pak Ab ini harganya berkisar antara Rp 10,000 – Rp 1 juta. Pak AB berharap melalui kerajinan ini masyarakat sekitar gambut dapat meningkatkan dan memanjukan perekonomian di sekitar daerah gambut, juga agar tidak ada pembakaran hutan secara besar-besaran yang menghasilkan asap tebal yang sangat menggangu bagi beberapa daerah bahkan negara luar.