Gerakan Penyelamatan Gambut berbasis Komunitas dikukuhkan dalam Jambore Masyarakat Gambut di Jambi
15 November 2016
Cerita dari Tapak : Baur Inovasi Petani Kalimantan Tengah
15 November 2016
Show all

Cerita dari Tapak: Naga Gambut Organik yang menjanjikan di Pulpis

Naga Gambut Organik yang menjanjikan di Pulpis

14242289_311427532548458_8124734899656183477_o 14361411_311427949215083_2918275205961818486_o 14361458_311427535881791_1154828383625610283_o

Setelah sekian kali percobaan menanam aneka macam tanaman termasuk jagung, sorgum, di lahan gambut tanpa metode membakar, akhirnya petani di Desa Gohong, Pulang Pisau, Kalimantan Tengah sukses menanam buah naga organik di lahan gambut. Hasilnya, rasanya sangat berbeda dengan buah naga umumnya. Bertekstur dan jusi, rasa manisnya terasa legit segarnya. “Kami menggunakan pupuk alam dari kotoran ayam kampung yang telah kami olah. Semua organik, kami tidak menggunakan bahan-bahan kimia apalagi pestisida,” jelas kepala Kelompok Tani Bumi Mekar Wangi, Anda B Gani, 46. Kini dari hasil percobaan sejak 2012, Anda dan kelompok taninya yang terdiri dari 42 orang ini bisa menghasilkan 10 ton buah naga organik, dengan harga perkilonya sekitar Rp 38.000.

14379845_311427719215106_6920027629602034522_o 14362560_311427695881775_8532996975235654080_o

Tentu saja hasil ini bukanlah serta merta. Anda yang adalah petani karet, semula tidak pernah yakin bisa menanami lahan gambut yang sejak 1997 terbengkalai begitu saja sejak kebakaran pertama di tahun tersebut. Mereka juga tidak pernah bertanam buah-buahan seperti naga, dan mengolah lahan gambut untuk ditanami tanpa membakar. Tapi dia diajak belajar dari sebuah perusahaan agrobisnis PT Borneo Mekar Wangi, yang juga mencari pasar bagi buah naga organik dari gambut tersebut. Luas lahan pohon buah naga yang diujicobakan sementara ini masih sekitar 5 ha. Karena hasil ujicoba ini berhasil dengan baik, dia dan kelompoknya akan mencobanya lagi yang lebih luas.

Kepala Desa Gohong, Yanto mengatakan, banyak lahan bekas kebakaran sejak 1997 di desanya, tidak pernah dikelola kembali. Hingga lahan tersebut membentuk semak belukar yang pada musim kemarau memberikan kerentanan kebakaran lahan. “Kalau lahan gambut terbengkalai ini dikelola dengan memperhatikan kelestarian gambut, dan menanamnya tanpa merusak gambut, saya pikir ini akan baik buat desa kami yang selama ini seringkali langganan kebakaran lahan gambut,”