BRG Tegaskan Lahan Gambut Bisa Dikelola dan Mampu Bangkitkan Ekonomi Warga

Diskusi pakar “Perlindungan Gambut dan Pembangunan Ekonomi”, 27 Desember 2017

Lahan gambut yang luas membentang di perdesaan gambut tidak boleh dibiarkan, agar tak memunculkan dampak buruk bagi lingkungan, sebaiknya masyarakat harus bisa mengelola secara tepat dan benar.

Lahan gambut bukanlah lahan mati, lahan gambut justru memiliki kelebihan dibandingkan dengan struktur tanah lain jika dikelola dengan tepat. Di permukaan lahan gambut bisa tumbuh berbagai macam sayuran yang dapat dijual dengan harga yang tinggi di pasaran. Kegiatan itu secara otomatis dapat membangkitkan ekonomi bagi masyarkatnya.


Badan Restorasi Gambut menegaskan, lahan gambut tidak harus ditanami sawit, ragam tumbuhan bisa hidup di areal gambut. Terpenting, masyarkat mengolah dan mengelola perkebunan gambut dengan cara-cara yang dianjurkan. Menurut pihak Wetlands Indonesia, I Nyoman Suradiputra mengatakan, lahan gambut bernilai ekonomi jika ditanami komoditas ekspor seperti sawit justru akan berujung pada hilangnya lahan gambut. Kehilangan itu dapat dimulai dengan pembuatan kanal-kanal oleh pengusaha yang menyebabkan terjadinya kekeringan lahan gambut.

Dia menambahkan, konversi lahan gambut hanya akan meniadakan nilai ekonomi lahan gambut. Karena itu BRG haarus berupaya menjaga lahan gambut melalui budidaya tanaman yang ramah terhadap gambut seperti jelutung, sagu, nanas dan purun, tanaman-tanaman ramah ini disebut paludikultur.

Informasi selengkapnya bisa Anda baca melalui tautan berikut ini:

https://republika.co.id/berita/ekonomi/makro/17/12/28/p1ny1d423-tak-harus-ditanami-sawit-gambut-punya-nilai-ekonomi