Bijak Kelola Air dengan Neraca Air di Lahan Gambut

Kuliah Umum digital ke-4 yang diselenggarakan Badan Restorasi Gambut tanggal 4 Juni 2020 dengan pemateri Ir. L. Budi Triadi, Dipl. HE., IPU SDA, Peneliti Ahli Utama Sumber Daya Air Kementerian PUPR, menampilkan materi tak kalah menarik: Neraca Air di Lahan Gambut. Boleh dikatakan, paparan materi ini berkait berkelindan dengan 3 kuliah umum sebelumnya dan termasuk yang dinantikan oleh peserta, peminat dan pemerhati masalah ekosistem gambut dengan masalah dan tantangan di sekitarnya.Terbukti ruang digital Zoom penuh kapasitas sekitar 300 peserta dimana pendaftar mencapai 900 orang dan kemudian memenuhi ruang virtual satu lagi di kanal Youtube BRG. Pada akhir sesi dan catatan video analytic tercatat ada 2600 views jumlah tayang keseluruhan.  

Bapak Budi Triadi memaparkan 29 slides Neraca Air dengan 4 bahasan utama: Neraca Air dan Tata Air, Rumus Neraca Air, Hidrologi serta Kendala-Tantangan Neraca Air. Neraca Air merupakan kunci utama perencanaan dan pengelolaan air di lahan gambut. Sebagaimana diketahui 90% dari kandungan gambut adalah air serta sepanjang waktu kondisi gambut harus dalam keadaan terbasahi atau lembab agar kondisi alaminya terjaga serta terhindar dari kebakaran.

Ekosistem lahan gambut merupakan hasil interaksi 3 komponen yang saling berkaitan yaitu tumbuhan, air dan gambut. Ketika salah satu dari komponen ini mengalami perubahan, komponen lainnya juga akan berubah. Mungkin tidak sekaligus berubah, tetapi dalam jangka panjang pasti terjadi perubahan. Dari sini juga bisa menjawab asal muasal kebakaran lahan gambut di Indonesia dan kenapa terus berulang.

Tata air tidak hanya bertujuan untuk membuang kelebihan air di musim hujan, tetapi sekaligus dapat menyimpan air bagi tanaman & pencegahan kebakaran hutan/lahan. Karena tata kelola air yang baik bertujuan menghindari defisit air saat musim kemarau, yang dalam jangka pendek menyebabkan kekeringan, kebakaran dan lepasnya gas-gas rumah kaca ke atmosfir. Defisit air yang berkepanjangan hingga gambut kering dan terbakar lebih berbahaya karena gambut kering tak balik (irreversible), menjadi rusak tak bisa diolah lagi dan dalam jangka panjang lahan gambutnya ambles (subsidence) dan kemudian mengalami kebanjiran.

Untuk para pihak yang berkepentingan dan sudah berada di lahan gambut yang melakukan berbagai usaha dan kegiatan harus mengetahui bagaimana tata air ini dapat dilakukan? Tiga pertanyaan penting harus terjawab: kapan, durasi & volume air surplus/defisit ? Untuk itulah perlu disusun neraca air. Perlu diperhatikan juga jenis gambut, karena jenis gambut berbeda perlu neraca air berbeda.

Akhirnya siklus air dikatakan seimbang apabila besarnya aliran air yang masuk (inflow) dan keluar (outflow) adalah sama, demikian pula ketidakseimbangan air adalah sebaliknya. Patut juga diingat, tata kelola air bisa dilaksanakan jika airnya ada. Jadi, bijak mengelola air di lahan gambut dapat membantu terhindar dari risiko lebih besar di masa-masa waspada terutama saat musim kemarau sebentar lagi.