AeroHydro Culture, Terobosan Baru Sistem Kultur Tanaman di Lahan Gambut

Mengelola lahan gambut merupakan tantangan tersendiri terkait kompleksitas karena keunikan karakteristik alami ekosistem gambut dan banyak pemangku kepentingan terlibat di dalamnya. Sesuai Peraturan Pemerintah No.57 tahun 2016 menyebutkan bahwa ketinggian muka air tanah di lahan gambut harus dijaga agar tidak turun kurang dari 40 cm di bawah permukaan gambut. Hal ini penting untuk menjaga tingkat kebasahan lahan gambut. Di lain pihak, beberapa pengelola budidaya di lahan gambut selain harus mematuhi ketentuan tersebut harus mencari akal menjaga produktivitas tanaman di lahan gambut karena risiko pengeringan lahan gambut rentan mengakibatkan kebakaran lahan. Perlu ada semacam solusi atau terobosan inovatif terkait hal tersebut, bagaimana menjaga kondisi hidrologis gambut dan menjaga produktivitas tanaman secara bersamaan.

Karena itulah, pada tanggal 4 Februari 2019 bertempat di kantor Bupati Siak dan kebun praktik perkebunan kelapa sawit Koto Ringin, di Mempura, Riau diperkenalkan Teknik AeroHydro Culture di Ekosistem Gambut. Acara yang dikemas dalam Workshop satu hari dilengkapi kunjungan lapang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Siak bekerja sama dengan Badan Restorasi Gambut dimana pemaparan disampaikan langsung oleh Profesor Mitsuru Osaki, tenaga ahli ekosistem gambut dari Jepang.

Menurut Profesor Mitsuru Osaki, dalam mengelola ekosistem gambut, ada beberapa elemen yang harus dipertimbangkan dalam mengelola ekosistem gambut, yaitu: 1) tinggi muka air; 2) status nutrisi tanah dan air gambut’ dan 3) ketersediaan oksigen. Masalah budidaya tanaman di lahan gambut, bahwa jika tinggi muka air dinaikkan mendekati permukaan ekosistem gambut atau dijaga tetap tinggi maka pasokan oksigen bisa berkurang dan kurangnya ketersediaan nutrisi untuk tanaman. Di sisi berbeda, pengeringan lahan gambut berisiko terjadinya kebakaran gambut. Perlu ada terobosan baru mengatasi kedua fenomena ini.

AeroHydro Culture menjadi terobosan invasi sistem kultur tanaman, karena dengan menerapkan sistem ini produktivitas tanaman tetap tinggi meskipun tinggimuka air dinaikkan atau dijaga mendekati permukaan ekosistem gambut. Bahkan dari pihak Kabupaten Siak sanga mendukung terobosan baru ini, mengingat lebih daari 50% dari luas total wilayah kabupaten seluas 869.721 hektar merupakan lahan gambut. Inovasi semacam ini sangat membantu baik bagi regulator dan pemangku kepentingan budidaya lahan gambut di Kabupaten Siak, Riau.

“Pemerintah Kabupaten Siak mendukung inovasi sistem kultur AeroHydro ini, terlebih karena sebagian besar wilayah gambut di Siak dimanfaatkan untuk hutan tanaman dan perkebunan. Kami siap untuk menjadi lokasi penelitian pengembangan sistem ini dan mendukung penuh kegiatan ini meskipun bersifat jangka panjang, yakni minimal 2 tahun. Kami optimis bahwa inovasi ini akan memberikan manfaat besar terutama bagi Kabupaten Siak”, kata Bupati Siak, Drs. H. Syamsuar, M.Si.

BRG sebagai institusi yang diberi mandat untuk percepatan pemulihan ekosistem gambut, akan mendukung semua upaya, metode dan teknik pengelolaan lahan gambut yang bisa memberi manfaat baik secara ekonomis dan ekologis serta yang terpenting tetap pada koridor aturan yang berlaku.