JAMBORE MASYARAKAT GAMBUT – Ini Alasan BRG Gelar Jambore Masyarakat Gambut di Jambi
5 November 2016
Jambore Masyarakat Gambut Resmi Dibuka
5 November 2016
Show all

Siaran Pers Jambore Masyarakat Gambut: Merajut Harapan dengan Kerajinan Gambut

JAMBI – Anyaman tikar belum selesai. Jemari Mariulis tanpa henti merajut lembaran anyaman tikar purun di hadapan beberapa pengunjung yang hadir di pondok belajar Jambore Masyarakat Gambut 2016 di GOR Kotabaru, Kota Jambi, Sabtu, 5 November 2016.

“Kerajinan ini sudah turun temurun dilakukan di desa kami,” katanya, sambil memperlihatkan kelihaiannya menganyam tikar purun.

Bukan hanya tikar, di hadapan Mariulis berjejer berbagai kerajinan yang terbuat dari purun (tanaman khas lahan gambut), seperti tas, dompet, sendal, dan sepatu. Semua kerajinan ini sengaja dihadapkan kepada sesama masyarakat gambut 7 provinsi yang hadir dalam Jambore Masyarakat Gambut 2016 di Kota Jambi.

Diakui Mariulis, di Desa Menang Raya, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten OKI, Sumatera Selatan, hampir 80 persen ibu-ibu di sana menjadi pengrajinan anyaman purun. Selain bahan baku bisa didapat di sekitar rumah, keahlian menganyam sudah mereka dapatkan dari keluarga.

“Memang saat ini untuk mencari purun sudah mulai susah,” ungkapnya.

Salah satu penyebab yang diketahuinya, semakin luasnya perusahaan menggunakan lahan gambut untuk perkebunan sawit. “Selain itu, kebakaran yang terjadi di lahan gambut juga menghabiskan purun sebagai bahan baku membuat kerajinan,” jelasnya.

Akibatnya, pengrajin terpaksa membeli purun ke desa tetangga, yang tentunya harganya tidak sama dengan purun yang didapatkan di desa mereka sendiri. “Hampir setiap desa di Pedamaran, perempuannya menganyam purun. Jadi, untuk bahan baku, bisa didapatkan dari desa lain,” katanya.

Untuk membuat satu tikar, mulai dari proses pengeringan hingga pewarnaan purun, diakuinya bisa menghabiskan waktu sampai satu minggu. “Kalau bahan bakunya sudah ada, untuk menganyam tikar itu hanya sebentar,” bebernya.

Kebutuhan tikar di desa tempat tinggalnya cukup tinggi. “Untuk pemasaran kami masih mengandalkan masyarakat sekitar untuk membeli tikar yang sudah kami buat,” ungkapnya.

Beberapa tahun terakhir, mereka sudah mendapatkan keahlian membuat kerajinan purun menjadi tas, dompet, sendal, dan sepatu. Sehingga, potensi kerajinan mereka bisa dijual ke luar desa semakin tinggi. “Beberapa kali kerajinan yang dibuat ibu-ibu desa Pedamaran sudah dibawa ke pameran di Palembang,” bebernya.

Meski demikian, sejauh ini, pengrajin purun masih menggantungkan harapan kepada pemegang kebijakan dan pemerintah setempat agar kerajinan mereka bisa terus berkembang dan dipasarkan dengan harga yang lebih menguntungkan. “Untuk penjualan tikar purun saja, ibu-ibu di desa sudah bisa membantu penghasilan keluarga. Apalagi kalau kerajinan seperti tas, dompet, sepatu dan sendal bisa dipasarkan ke luar sumatera selatan dan luar negeri,” harapnya.

Sementara itu, Suparedy, Kepala Desa Menang Raya, mengakui jika pengrajin purun bukan sekadar pekerjaan sampingan saja. Karena, dengan memberdayakan sumber daya alam yang ada di lahan gambut, menjadikan masyarakat di sana bisa lebih bagus tingkat perekonomiannya. “Kalau lahan gambut dirusak, bagaimana masyarakat di sini bisa melanjutkan hidup. Padahal, kerajinan purun ini dibuat sudah sangat lama di desa kami,” ungkapnya.

Untuk itu, dirinya berharap persoalan pembakaran lahan gambut bisa segera diselesaikan pemerintah. Selain itu, pemerintah bisa membantu masyarakat dalam memasarkan hasil kerajianan purun. “Supaya kualitas kerajinan purun di desa kami semakin baik. Pemerintah bisa membantu dengan alat jahit dan peralatan lainnya,” katanya.

Suparedy yakin dengan membantu masyarakat mengembangkan pemasaran kerajinan dan menjaga bahan baku tetap ada, masyarakat setempat tingkat kesejahteraannya akan meningkat. Sehingga, upaya meningkatkan perekonomian dengan merusak lahan gambut bisa dicegah.

Sebelumnya, Disampaikan Myrna A Safitri, Deputi bidang edukasi, sosialisasi, partisipasi dan kemitraan pada Badan Restorasi Gambut (BRG) Republik Indonesia, Jambore Masyarakat Gambut di Kota Jambi menjadi wadah saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam penyelamatan gambut berbasis komunitas. “Para peserta menunjukan upaya inovatif untuk menyelamatkan gambut dan meningkatkan kesejahteraan,” katanya.

Diakuinya, jambore gambut seperti ini, selain pertama di Indonesia juga di dunia. Pada jambore bakal ditemukan berbagai upaya inovatif yang dilakukan masyarakat dalam mencegah kerusakan gambut. “Ke depan warga desa gambut dapat terkoneksi dari seluruh Indonesia. Sehingga bisa terjalin kerjasama. Terutama bagaimana cara meningkatkan ekonomi warga desa, dan akan berpengaruh terhadap ketahanan lingkungan,” jelasnya.

Ditambahkan Myrna, masyarakat gambut yang hadir pada jambore dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan. “Bahkan bisa bertemu pemegang kebijakan. BRG juga menghadirkan pelaku bisnis untuk tingkat UMKM,” katanya. “Bukan hanya memulihkan ekosistem saja, tapi juga memulihkan tingkat penghidupan,” tambah Myrna. (*)