Sekolah Lapang Petani Gambut Dimulai dan Libatkan 25 Desa di Riau

Tanggal 5 Agustus 2020 kemarin, Desa Mekar Sari, Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau mendapat kehormatan menjadi tempat pembukaan Sekolah Lapang Petani Gambut (SLPG) yang dibina oleh Badan Restorasi Gambut (BRG). Acara pembukaan SLPG ini dipusatkan di Gedung MDTA Desa Mekar Sari. Tahun ini kegiatan SLPG di Provinsi Riau meliputi peserta dari 25 desa yang dilaksanakan serentak di tiga lokasi yaitu Desa Labuhan Tangga Besar, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir, Desa Pedekik di Bengkalis dan Desa Mekar Sari sendiri.

Sekolah Lapang Petani Gambut mengajarkan para petani mengembangkan pertanian alami dengan teknik tanpa bakar. “Kegiatan ini juga bertujuan mendukung pencegahan kebakaran di lahan gambut. Para petani perlu solusi praktis dalam pertanian. Tidak bisa hanya dengan larangan membakar,” demikian dijelaskan Kepala Kelompok Kerja Edukasi dan Sosialisasi  BRG, Dr. Ir. Suwignya Utama, MBA di sela-sela pembukaan Sekolah Lapang di Mekar Sari kemarin (5/9).

Pelatihan awal dalam rangkaian SLPG berlangsung selama 4 hari. Para petani mendapat materi terkait konsep dasar ekosistem gambut, teknik fasilitasi kelompok tani, hingga praktik langsung pembuatan pupuk organik, pembenah tanah dan pestisida alami. Tidak lupa diberikan materi pengenalan pemasaran.

Dalam acara pembukaan di Desa Mekar Sari, Camat Merbau Abdul Hamid, S.Thi., M.M. menyampaikan terimakasih dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan SLPG. Ia percaya model sekolah ini akan sangat bermanfaat bagi petani gambut khususnya agar lahan-lahan gambut yang terlantar selama ini bisa memberi nilai tambah bagi kesejahteraan petani. Ke depan petani sudah tahu cara mengelola gambut tanpa bakar. Abdul Hamid mengatakan, “Sekolah ini berbeda dengan pelatihan pada umumnya, karena memadukan teori, kegiatan, sekaligus tindakan nyata untuk mengembangkan kemampuan bertani di lahan gambut”.

Kepala Desa Mekar Sari, Erman, S.Pd juga menyampaikan hal senada. Mayoritas lahan Desa Mekar Sari adalah bergambut dan petani perlu terus mendapat asupan pengetahuan cara mengelola lahan gambut agar perlahan-lahan bisa mengubah cara pandang dengan melihat praktik nyata dari kebun percontohan yang sudah dibuat.

Salah satu instruktur SLPG, Syamsul Asinar, menambahkan, “Lahan gambut punya karakteristik lahan yang unik. Karena itu petani harus diajarkan untuk bertani secara alami dan tanpa bakar dengan tetap mempertahankan produktifitas pertanian.” Menurut Syamsul pendekatan ini akan menjawab empat tantangan pengelolaan ekosistem gambut yakni, mencegah kebakaran lahan gambut, mencegah degradasi lahan gambut akibat penggunaan pupuk kimia, peningkatan pendapatan petani, serta perlindungan ekosistem gambut.

Petani peserta SLPG pun merasa senang bisa bergabung dalam kegiatan ini. Seperti kata Ibu Kachyani dari Desa Pangkalan Gondai Kabupaten Pelalawan, “Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan oleh petani di lahan gambut. Terutama pengetahuan tentang cara membuat pupuk organik. Dari kegiatan bersama BRG ini kami tahu bagaimana pemanfaatan sampah dan tanaman-tanaman di sekitar kebun untuk membuat pupuk maupun pestisida alami dan nutrisi tanaman”, ujarnya.

BRG sudah memulai SLPG sejak tahun 2018. Hingga Juli 2020, sudah ada 848 kader Petani Peduli Gambut di 7 provinsi target restorasi gambut. Untuk provinsi Riau sampai tahun 2019 ada 148 kader SLPG yang mengembangkan 51 mini demplot (kebun percontohan).