Cerita dari Tapak – ResamLah, gelang sehat dari tanaman gambut
16 Desember 2016
Rangkuman Acara Simposium Lahan Gambut Internasional 2016
16 Desember 2016
Show all

Restorasi Gambut Harus Dilakukan Bersama

Badan Restorasi Gambut (BRG) mengajak keterlibatan seluruh pihak untuk bersama ikut dalam aksi menjaga dan merestorasi gambut tahun depan. Keterlibatan seluruh pihak, dinilai menjadi salah satu kunci untuk merestorasi lahan 2,4 juta hektare lahan gambut yang menjadi fokus kerja BRG hingga tahun 2019.

“Dengan dukungan dari para pihak, dan juga peran informasi, dan juga hasil-hasil penelitian, sangat penting atau krusial dalam berikan penguatan kegiatan restorasi gambut,” ucap Deputi Penelitian dan Pengembangan BRG Haris Gunawan saat melakukan round-up Simposium Lahan Gambut Internasional, yang dihelat di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (16/12).

Dikatakan dia, tahun depan merupakan tahun implementasi penuh dalam aksi restorasi gambut. Dirinya menjanjikan untuk kerja keras di tahun depan, sementara di tahun pertama, BRG berfokus pada pemetaan wilayah dan mengembangkan proyek percontohan restorasi gambut di Sungai Tohor, Kepulauan Meranti, Riau, serta Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Selama dua hari simposium berjalan, Haris melihat bagaimana mekanisme insentif-disinsentif, serta penegakan hukum yang berjalan pararel dengan kegiatan restorasi menjadi pemahaman bersama. “Terutama di lokasi kehutanan yang sudah dibebani izin,” imbuh Haris.

Semua hal tersebut, lanjut Haris, bermuara pada pengurangan asap dan kebakaran. Sebagai tambahan, dirinya menjanjikan untuk melakukan transparansi regulasi dan kebijakan untuk membuka ruang publik.

Kerjasama semua pihak, juga diperlukan untuk menghasilkan pengelolaan gambut yang berkelanjutan. Pasalnya, jika restorasi gambut hanya berujung pada pemulihan secara kondisi semata, maka akan diperlukan BRG atau kegiatan restorasi yang lainnya.

Sementara, kebakaran yang hendak dicegah tidak hanya kebakaran dari satu tahun saja, tapi secara berkelanjutan pengurangan asap dan pencegahan kebakaran dapat berlangsung hingga tahun-tahun berikutnya. “Ini harus jadi program berkelanjutan, dan ini membutuhkan kerjasama antar Kementerian Lembaga, serta kerjasama antar negara donor,” papar Haris.

Dalam kesempatan tersebut, Haris juga menyatakan pengelolaan lahan gambut harus seturut dengan teknologi yang tengah berkembang. Sebagai tambahan, dirinya menyatakan sudah terdapat sistem pemantau ketinggian dan kelembapan gambut secara komputerisasi.

Nantinya, hasil pemantauan akan dipancarkan ke server yang berada di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). “Jadi kita akan punya satu sistem yang kuat untuk tekan kebakaran dan tunjukan di mana dan seperti apa dampak restorasi yang kita lakukan,” tutur dia.

Nantinya, semua aksi restorasi gambut akan menghasilkan kontribusi signifikan terhadap pengurangan emisi dari sektor lahan. Hal tersebut juga dapat menjadi modal bagi Indonesia untuk tunjukan keseriusan dalam pengendalian perubahan iklim.

Kepala BRG Nazir Foead yang menutup perhelatan simposium tersebut menyatakan target dukungan dana untuk restorasi dari hibah akan memiliki proporsi yang besar. Tahun depan, BRG memiliki Pagu Anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebesar Rp 865 Miliar.

“Untuk itu kami berharap dukungan dari negara sahabat untuk terus berkembang,” ucap Nazir.