Program Kerja

Pemetaan dan Inventarisasi

Pelaksanaan restorasi gambut di 7 provinsi prioritas dilakukan berdasarkan hasil pemetaan dan inventarisasi yang terlebih dahulu dilakukan. BRG melaksanakan pemetaan dan inventarisasi melibatkan berbagai pihak dan mitra serta mendasarkan pada data resmi yang sudah ada dari berbagai pihak dan mitra seperti kementerian atau lembaga pemerintahan terkait, pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan serta pendataan langsung ke lapangan. Pemetaan dan inventarisasi dilakukan untuk mendapatkan Peta Indikatif Prioritas Restorasi per provinsi.

Riau

Jambi

Sumatera Selatan

Kalimantan Barat

Kalimantan Tengah

Kalimantan Selatan

Papua

Pembasahan Gambut

Restorasi Gambut adalah upaya pemulihan ekosistem gambut terdegradasi agar kondisi hidrologis, struktur dan fungsinya berada pada kondisi pulih. Untuk itu dilakukan pembasahan kembali (rewetting) material gambut yang mengering akibat turunnya muka air tanah gambut. Terdapat tiga cara melakukan pembasahan kembali tersebut:

  • Pembuatan bangunan penahan air, antara lain dalam bentuk sekat kanal
  • Penimbunan kanal yang terbuka
  • Pembangunan sumur bor

Pembasahan Gambut

Pembasahan Gambut

Pembasahan Gambut

Revegetasi

Revegetasi adalah upaya pemulihan tutupan lahan pada ekosistem gambut melalui penanaman jenis tanaman asli pada fungsi lindung atau dengan jenis tanaman lain yang adaptif terhadap lahan basah dan memiliki nilai ekonomi pada fungsi budidaya. Terdapat beberapa cara melakukan revegetasi, seperti:

  1. Penanaman benih endemis dan adaptif pada lahan gambut terbuka
  2. Pengayaan penanaman (enrichment planting) pada kawasan hutan gambut terdegradasi
  3. Peningkatan dan penerapan teknik agen penyebar benih (seed dispersal techniques) untuk mendorong regenerasi vegetasi gambut

Teknik revegetasi dilakukan dengan sistem surjan dan paludikultur. Sistem surjan adalah agroforestri yang tidak membutuhkan adanya saluran atau kanal drainase sehingga lahan gambut dapat dipertahankan tetap basah. Sementara itu, paludikultur adalah budidaya tanaman menggunakan jenis-jenis tanaman rawa atau tanaman lahan basah yang tidak memerlukan adanya drainase air gambut.

Revegetasi

Revegetasi

Revegetasi

Revitalisasi Sumber Mata Pencaharian

Revitalisasi sumber-sumber mata pencaharian masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang ada di dalam dan sekitar areal restorasi gambut. Program revitalisasi yang dilakukan mendorong sistem pertanian terpadu di lahan gambut dimana sistem surjan dan paludikultur menjadi pilihan utamanya.

Program ini melakukan identifikasi jenis-jenis tanaman yang ramah terhadap ekosistem gambut. Demikian pula dikembangkan perikanan air tawar dan peternakan. Pengembangan teknologi pertanian adaptif di lahan gambut menjadi prioritas dalam program ini. Program ini juga mengembangkan strategi penguatan rantai pasok kepada pasar lokal, nasional dan internasional.

Revitalisasi Sumber Mata Pencaharian

Revitalisasi Sumber Mata Pencaharian

Revitalisasi Sumber Mata Pencaharian

Desa Peduli Gambut

Desa Peduli Gambut adalah kerangka penyelaras untuk program-program pembangunan yang ada di perdesaan gambut, khususnya di dalam dan sekitar areal restorasi gambut. Pendekatan yang digunakan adalah merajut kerjasama antar desa yang ada dalam satu bentang alam Kesatuan Hidrologis Gambut. Pembentukan kawasan perdesaan gambut menjadi pintu masuk bagi perencanaan pengelolaan gambut oleh desa-desa tersebut.

Program Desa Peduli Gambut meliputi kegiatan fasilitasi pembentukan kawasan perdesaan, perencanaan tata ruang desa dan kawasan perdesaan, identifikasi dan resolusi konflik, pengakuan dan legalisasi hak dan akses, kelembagaan untuk pengelolaan hidrologi dan lahan, kerja sama antar desa, pemberdayaan ekonomi, penguatan pengetahuan lokal dan kesiapsiagaan masyarakat desa dalam menghadapi bencana kebakaran gambut.

Desa Peduli Gambut

Desa Peduli Gambut

Desa Peduli Gambut

Program Sosialisasi dan Edukasi Restorasi Gambut

Sosialisasi restorasi gambut dilaksanakan untuk me nyampaikan kebijakan, program dan kegiatan terkait restorasi gambut kepada para pihak melalui berbagai medium seperti halnya tatap muka, pemberitaan pada media cetak, elektronik dan online, media sosial. Kegiatan Sosialisasi dilakukan secara terus-menerus sepanjang masa tugas BRG. Adapun kegiatan edukasi bersifat penyampaian informasi berbasis pada kurikulum dan materi ajar yang sudah ditetapkan. Di dalam kegiatan edukasi saat ini tercakup Sekolah Lapang Petani Gambut, Pelatihan Fasilitator Desa, Pelatihan Paralegal Masyarakat Gambut, Pelatihan Guru dan Lokalatih Pemuka Agama.

Supervisi

Kegiatan supervisi restorasi gambut di areal konsesi merupakan bagian dari kegiatan Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraaan yang dilakukan BRG dalam melaksanakan restorasi di areal konsesi. 

Kegiatan ini dilakukan dengan memberikan asistensi dan bimbingan teknis serta pendampingan kepada pemegang konsesi di areal target restorasi BRG untuk melaksanakan restorasi gambut. Kegiatan asistensi dan bimbingan teknis serta pendampingan dari sisi konstruksi, operasi dan pemeliharaan infrastruktur di Lahan Konsesi.

Lokasi supervisi restorasi gambut di areal konsesi dipilih dengan memperhatikan:

  1. Berada di KHG Prioritas Kerja BRG dan merupakan target restorasi yang terdapat dalam Peta Indikatif Restorasi BRG.
  2. Merupakan konsesi berizin baik HGU, IUPHHK HA/RE/HPH.
  3. Konsesi tersebut tidak sedang bermasalah hukum (khususnya kasus kebakaran lahan).
  4. Diutamakan yang sudah mendapatkan SK perintah pemulihan dan telah memiliki rencana pemulihan.
  5. Diutamakan yang berada pada areal gambut pasca kebakaran tahun 2015 dan gambut lindung berkanal.

Target pelaksanaan supervisi dalam konstruksi, operasi, dan pemeliharaan infrastruktur di lahan konsesi adalah sebanyak 1.784.535 Ha.

Berdasarkan SK.18/BRG/KPTS/2018) pada areal perkebunan seluas 555.659,23 Ha sedangkan pada areal kehutanan seluas 1.217.053,42 Ha.

Lokasi supervisi di lahan konsesi kehutanan di wilayah Prioritas 1 (bekas kebakaran 2015-2016-2017) berada di 57 KHG dengan 66 perusahaan dengan luasan 252.182,86 Ha. Sedangkan di wilayah Prioritas 2 (gambut lindung berkanal) berada di 63 KHG dengan  90 perusahaan perkebunan dengan total luasan 1.057.181 Ha.

Lokasi supervisi di lahan konsesi perkebunan di wilayah Prioritas Indikatif Restorasi 2 (Pasca Kebakaran 2015-2016-2017) berada di 75 KHG dengan 142 perusahaan perkebunan dengan luasan 71.872,57 Ha. Sedangkan di wilayah Prioritas 2 (gambut lindung berkanal) berada di 164 KHG dengan  294 perusahaan perkebunan dengan total luasan 819.551,5 Ha.

Di area konsesi, dari Target Restorasi BRG berdasarkan SK.16/BRG/KPTS/ 2018, dimana dari 2.676.601 Ha target Restorasi BRG, sebanyak 1,772,712 ha nya berada di areal konsesi dan dilakukan melalui Supervisi. Dari Total luasan tersebut, 1.217.053,42 Ha berada di areal konsesi kehutanan (IUPHHK-HT/HA/RE)  Dan 555,659 ha berada di areal konsesi perkebunan. Hingga September 2019 BRG dan Kementan telah melakukan supervisi kepada 29 perusahaan perkebunan sawit dengan luas lahan gambut sekitar 232.751,57 Ha (41,89% dari 555.659,23 Ha yang menjadi areal target Supervisi di areal perkebunan). Tim supervisi yang terdiri dari para pakar gambut dan tata air langsung turun ke lapangan memberikan asistensi teknis kepada perusahaan. Hasilnya, ada yang kami nilai telah melakukan restorasi dengan cukup baik, ada yang masih memang perlu banyak perbaikan. Namun kami apresiasi juga untuk pihak perusahaan yang telah berupaya menjalankan aksi restorasi sesuai Dokumen Rencana Pemulihan yang telah ditetapkan oleh Dirjen PPKL Kementerian LHK.

Untuk konsesi HTI dan HPH, BRG telah melakukan Kegiatan Ujicoba di areal seluas 114.910 Ha di 2 (dua) konsesi di Kalimantan Barat. Kegiatan Supervisi belum bisa dilakukan secara langsung karena belum adanya pedoman yang dibuat oleh Dirjen PPKL dan adanya permintaan dari Dirjen PPKL secara langsung melalui Surat No.S.235/PPKL/SET/PKL.0/9/2019 yang meminta agar BRG fokus melakukan kegiatan restorasi di areal penggunaan lain dan kegiatan Supervisi dan restorasi di areal konsesi akan dilakukan sepenuhnya oleh Kementerian LHK.

Supervisi

Supervisi

Riset

BRG bersama mitra akademisi dari berbagai universitas ternama baik di 7 provinsi kerja, universitas terkemuka di Pulau Jawa maupun universitas internasional melakukan berbagai riset terkait pengaplikasian kegiatan restorasi gambut yang mendukung strategi 3 R (Rewetting, Revegetation dan Revitalization of Local Livelihood) serta pengelolaan ekosistem gambut yang berkelanjutan.

 

Unduh Dokumen Tora Lahan Gambut

Unduh Dokumen Inisiasi Paludikultur di Indonesia

Pemantauan

Pemantauan program restorasi gambut diperlukan untuk mengetahui capaian kegiatan, dampak serta efektivitas. BRG bersama mitra menginisiasi dua sistem pemantauan restorasi gambut secara online yakni Peatland Restoration Information and Monitoring System (PRIMS) serta Sistem Pemantauan Air Lahan Gambut (SIPALAGA) agar informasi dan data terkait program restorasi gambut dapat dengan mudah diperbaharui dan diakses oleh publik.

PRIMS

Pranata Informasi Restorasi Ekosistem Gambut (PRIMS GAMBUT) adalah platfom daring berbasis spasial yang menyediakan informasi terkini tentang kondisi lahan gambut di Indonesia dan kemajuan restorasi gambut. PRIMS GAMBUT mendukung pemantauan dan pelaporan kegiatan perlindungan dan restorasi 2 juta hektar lahan gambut yang dilakukan oleh Badan restorasi Gambut, Tim Restorasi Gambut Daerah, Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah dan Publik.

Sipalaga

SIPALAGA merupakan sistem informasi pemantauan tinggi muka air di lahan gambut. Penyajian data perekaman secara real-time dan berbasis telemetri secara otomatis. Komponen utama SIPALAGA adalah alat perekam data yang di pasang di lahan gambut. Alat ini merekam tiga parameter penting ekosistem gambut yaitu Tinggi Muka Air (TMA) , kelembaban tanah gambut, dan tingkat curah hujan. Data SIPALAGA dapat dimanfaatkan untuk mengindikasikan kerawanan kawasan gambut terhadap kekeringan, yang bisa berakibat kepada kerentanan kebakaran. Publik dapat mengakses SIPALAGA melalui website: http://sipalaga.brg.go.id.