Pemantauan Gambut Berbasis Online ‘PRIMS’ Dikenalkan dalam Forum APFW 2019 di Incheon, Korea Selatan

Restorasi gambut tropis semakin menjadi perhatian dunia mengingat pentingnya ekosistem ini sebagai habitat bagi keanekaragaman hayati, dan fungsinya sebagai penyimpan dan penyerap karbon. Oleh karena itu, degradasi ekosistem gambut menjadi salah satu isu dalam pengendalian perubahan iklim. Di sisi lain, Pemerintah Indonesia serius menangani kebakaran hutan dan lahan termasuk di lahan gambut. 35% areal terbakar tahun 2015 berasal dari ekosistem gambut.

Memantau kondisi gambut sangat penting dalam pelaksanana restorasi. Untuk ini, Badan Restorasi Gambut (BRG) mengembangkan sistem pemantauan restorasi gambut berbasis online PRIMS-GAMBUT (Pranata Informasi Restorasi Ekosistem Gambut). PRIMS Gambut menyediakan data  restorasi di tujuh provinsi prioritas kerja BRG. Platform ini juga memungkinkan Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah, Tim Restorasi Gambut Provinsi, mitra pembangunan pelaksana restorasi, sektor swasta, LSM dan masyarakat mengakses informasi tentang perencanaan dan implementasi restorasi, memantau area restorasi, memantau hotspot di lahan gambut, mengidentifikasi potensi degradasi ekosistem gambut, dan melaporkan kegiatan restorasi.

Deputi Perencanaan dan Kerjasama BRG RI, Budi S. Wardhana dalam forum diskusi Asia Pacific Forestry Week (APFW) 19 Juni lalu di Songdo Convensia, Incheon, Korea Selatan menjelaskan ihwal PRIMS-GAMBUT kepada para pengambil kebijakan, LSM, pakar dan perwakilan korporasi berbagai negara. Dalam kesempatan ini dilakukan juga demo secara langsung, hingga peserta diskusi dapat melihat fitur dan aktivitas apa saja yang bisa diakses dan dipantau.

Banyak manfaat dari PRIMS Gambut ini. Pertama, membagi informasi mengenai perencanaan dan kegiatan yang terkait dengan restorasi gambut. Kedua, bersama-sama memantau indikasi degradasi di ekosistem gambut. Dan ketiga, menyediakan wahana untuk saling tukar data.

Sektor swasta dan para pengelola lahan, termasuk petani akan mendapat manfaat dalam merencanakan kegiatan pembasahan gambut yang sinergis. Mereka juga dapat memantau dampak dari kegiatan restorasi, termasuk memantau pembukaan baru di ekosistem gambut dan timbulnya titik api, untuk selanjutnya dilaporkan kepada Pemerintah atau aparat.

Turut hadir dalam sesi diskusi tersebut perwakilan dari Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Hageng Nugroho yang bertindak sebagai moderator. Disampaikan bahwa KSP turut mengapresiasi pembangunan sistem monitoring ekosistem gambut dan diharapkan dapat membantu memverifikasi pemantauan program prioritas nasional terkait restorasi gambut.

Salah satu mitra BRG dalam pengembangan kegiatan pemantauan restorasi gambut ini adalah FAO. Adam Gerrand, Forestry Officer FAO menyampaikan pentingnya sistem pemantauan berbasis satelit dan manfaat dari pengumpulan data menggunakan penginderaan jauh. Perkembangan teknologi penginderaan jauh untuk memantau dampak restorasi gambut saat ini masih akan terus disempurnakan agar bisa tersaji sedini mungkin kepada para pihak.

Dengan berbagai manfaat dan keunggulan PRIMS-Gambut, efektivitas program restorasi gambut diharapkan akan lebih baik lagi.