Menapaki Tangga Kesejahteraan Dengan Budidaya Kopi Liberika di Lahan Gambut
Hasil Assesment Test Seleksi Terbuka Penerimaan Calon Kasubpokja Pada Badan Restorasi Gambut Tahun 2017
26 November 2017
Show all

Menapaki Tangga Kesejahteraan Dengan Budidaya Kopi Liberika di Lahan Gambut

Siapa nyana bahwa kopi Liberika yang pada awalnya dibawa oleh H. Sayuti dari Malaysia sekitar tahun 1945 ke Wilayah Jambi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di lahan gambut khususnya di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi.

Siapa nyana bahwa kopi Liberika yang pada awalnya dibawa oleh H. Sayuti dari Malaysia sekitar tahun 1945 ke Wilayah Jambi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di lahan gambut khususnya di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi.

Adalah Kelompok Tani Sri Utomo 3 yang dinahkodai oleh Bapak Ridwan dengan jumlah anggota kelompok sebanyak 42 orang dengan luasan kebun kopi Liberika rata-rata 2 hektar/anggota, yang berarti kurang lebih 84 hektar luasan kebun kopi secara keseluruhan yang dimiliki oleh Pak Ridwan dkk.

Dengan luas kebun kopi sebanyak itu, Kelompok Tani dapat memproduksi rata-rata green bean (bijih kopi yg telah bersih) 400 kg/hektar/tahun, dengan harga di tingkat tapak saat ini sekitar Rp. 42.000,- (standard) dan Rp. 65.000; (kualitas premium), berarti pemerimaan bruto per hektar/tahun sekitar Rp. 16.800.000;(standard) dan Rp. 26.000.000; (premium). Kalau total penerimaan bruto tersebut dikalikan dengan total luas lahan kopi yang dimiliki Pokmas Sri Utomo 3 seluas 84 hektar, maka total penerimaan bruto mereka dari penjualan green bean saja mencapai Rp. 6.720.000.000;/tahun (standard) dan Rp. 10.400.000.000/tahun (premium) atau rerata bulanan yaitu Rp.560.000.000; (standard) dan Rp. 866.666.667; (premium), jumlah penghasilan yang tidak kecil BUKAN?

Pak Ridwan dkk terus berinovasi tiada henti dalam rangka meningkatkan kualitas dan nilai produksi serta nilai tambah (value added) kopi Liberika yang mereka produksi dengan cara diversifikasi produksi tidak hanya mengadalkan dari pemasaran green bean tetapi juga dalam bentuk bubuk yang dikemas dengan packaging yang sangat menarik. Pokmas dengan motto CERDAS (Cukup Ekonomi, Rakyat Damai Aman dan Sejahtera) tersebut bahkan kopi Liberika produksi mereka sudah memperoleh Paten dengan terdaftar sebagai Kopi Liberika Tunggal Jambi Sejahtera dan merk kopi “Cap Jempol”.

Menurut informasi Pak Ridwan dkk fokus pemasaran green bean produksi mereka saat ini adalah ekspor ke Singapore dan Malaysia, sementara untuk pemasaran bubuk kopi kemasan menyasar pasar dalam negeri seperti Kota Jambi, Riau, Lampung dan Jakarta. Kopi Liberika bubuk kemasan cap jempol dibandrol dengan harga Rp. 25.000;/100 gram dan Rp. 75.000;/250 gram.

Untuk memperluas produksi dan cakupan pasar serta memperbaiki kualitas produksi menuju ke grade premium, maka Pokmas Sri Utomo 3 mengajukan proposal revitalisasi ekonomi (R3) Badan Badan Restorasi Gambut (BRG), proposal tersebut mendapat persetujuan dan dukungan dari Kedeputian Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan pada tahun 2017 ini. Dukungan program R3 BRG diperuntukan untuk pembangunan DOM untuk penjemuran/pengeringan green bean dengan dengan ukuran 6×2 meter dengan kapasitas 500 kg bijih kopi/sekali penjemuran; gudang penyimpanan hasil pengeringan dengan dimensi 6×12 meter; mesin sortase, mesin huller penggilingan; dan mesin untuk pengemasan/pembungkusan. Dengan adanya bantuan R3 BRG Pokmas Sri Utomo 3 mentargetkan khusus memproduksi green bean kualitas premium dengan tujuan ekspor ke luar negeri dan berharap langkah ini merupakan langkah awal untuk peningkatan produksi dan pemasaran yang lebih luas dengan brand kopi Liberika khusus, sehingga diharapkan kesejahteraan masyarakat Desa Mekar Jaya umumnya dan Pokmas Sri Utomo 3 khususnya dapat meningkat di masa yang akan datang dan lahan gambut sebagai media untuk kultivasi kopi Liberika dapat terpelihara dengan baik. Usaha dan upaya yang dilakukan oleh Pak Ridwan dkk diharapkan dapat direplikasi dan ditiru oleh Pokmas-pokmas lain di wilayah target restorasi gambut, Semoga.

Catatan: berdasarkan pengamatan visual dan informasi singkat anggota Pokmas bahwa lahan gambut yang ditanami kopi Liberika dapat dikategorikan sebagai gambut pantai atau transisi yg dipengaruhi pasang-surut (pasut) dan limpasan air Sungai Batanghari tingkat dekomposisi gambut hemik-saprik. Dengan demikian untuk pembudidyaaan pada daerah gambut pedalaman (inland peat) perlu kajian lebih lanjut