Drama dan Air Mata, Cerita di Balik Gemuknya Sapi-Sapi di Lahan Gambut

Urusan sapi jadi drama, Dwi Dedeh punya cerita. Maksud hati membantu masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup, dibalas ‘drama’ didamprat dan didatangi malam-malam. “Untung tidak digampar, mungkin karena saya perempuan,” kata Dwi terkekeh, mengenang pengalaman masa-masa awalnya mendampingi kelompok masyarakat (Pokmas) Taruna Karya Bersama di Desa Tanjung Taruna, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, mengusahakan ternak sapi bali.

Tapi Dwi tak menyerah, meski dirundung rasa gelisah dan tak betah, lulusan S2 peternakan dari Universitas Brawijaya Malang ini yakin, dia hanya perlu memberi bukti bahwa beternak sapi akan mengangkat perekonomian masyarakat di lahan gambut itu. Dia sabar mendampingi dan mengajari mereka bagaimana memelihara ternak sapi dan kandangnya, menyediakan pakan yang terbaik, dan merawat kesehatan sapi yang diberikan melalui bantuan paket ekonomi dari Badan Restorasi Gambut (BRG).

BRG memberikan bantuan berupa ternak, kandang, pakan, obat-obatan, dan alat transportasi berupa klotok. Selain itu, BRG juga memberikan pelatihan manajemen pakan, reproduksi, pengolahan limbah dan sebagainya. Mereka harus mengelola bantuan 52 ekor sapi bali yang terdiri dari 40 ekor betina untuk reproduksi, 10 ekor pejantan untuk penggemukan, dan dua ekor pejantan untuk kawin alam.

Ditugaskan sejak Desember 2016, tahun pertama menjadi masa-masa yang berat bagi Dwi.  “Sulit bagi masyarakat saat itu menambah kebiasaan baru selaku peternak atau setidaknya berusaha rutin memberi makan sapi-sapi itu,” kata Dwi. Dia pun terjun langsung setiap hari. Paginya dia mengajar di Universitas Palangkaraya, siangnya dia mengunjungi dan mendampingi anggota Pokmas untuk memberi contoh tentang pemberian pakan yang baik, penggemukan yang sehat, dan pemeriksaan medis.

Setahun berlalu hanya seekor betina yang bunting dan melahirkan. Sedangkan sapi penggemukan punya persoalan lain lagi. Tak mau anggota Pokmas merugi karena terjerat harga murah dari tengkulak, Dwi memilih menjual sapi kepada konsumen walau butuh waktu lebih lama. Ingin sapinya cepat laku, anggota kelompoknya protes.

Situasi dengan cepat menjadi kacau. Konflik, adu mulut, adalah situasi harian yang harus dihadapi Dwi dengan sabar walau harus mencurahkan air mata. Menurut dia, kadang perbedaan suku, watak, adat, bahasa, bisa menyebabkan terjadinya masalah komunikasi. Alih-alih mundur, dia mencari solusi. 

Untuk sapi betina, Dwi mendatangkan dokter hewan lalu diberikan perawatan khusus. Akhirnya pada 2018, sapi-sapi betina pun mulai bunting. Sedangkan untuk sapi penggemukan, dia membebaskan anggota menjual kemana saja. Tapi ketika warga melihat bahwa sapi yang dijual kepada konsumen dihargai lebih tinggi ketimbang tengkulak, mereka pun ikut. Situasi ini menjadi titik balik bagi para anggota Pokmas Taruna Karya.

Dwi bercerita, sampai sekarang sapi-sapi mereka telah menghasilkan 59 ekor anakan. Sebagian sudah dijual untuk diternakkan lagi dengan hasil yang menjanjikan bagi para anggota, walau mereka masih tetap menjadi nelayan. Rata-rata anggota kini memiliki masing-masing empat ekor sapi yang terdiri dari betina dan anakan yang bisa dijual kepada warga di luar anggota. Warga yang tertarik beternak pun bertambah dari awalnya hanya 30 persen, kini 60 persen warga sudah memelihara sapi.

Untuk sapi penggemukan, Pokmas Taruna Karya sudah tiga kali menjual ternak mereka. Hasilnya dibagi untuk kas, kembali modal, dan pemasukan bagi anggota. Uang kas digunakan untuk operasional, pembelian obat, perawatan kandang dan perawatan ternak. Sebagian juga digunakan sebagai bantuan bagi Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah mereka.

Selain beternak, warga juga dilatih mengolah kotoran sapi menjadi pupuk walau pemasarannya masih sulit karena permukiman mereka sulit dijangkau dengan mobil atau truk. Alhasil, pupuk masih dipakai sendiri. Mereka juga berlatih membuat pakan sapi, selain menjaga kelestarian pakan alami berupa kumpai, tanaman khas lahan gambut yang melimpah di sana.

“Dengan kata lain, bantuan dari BRG ini selain membantu meningkatkan perekonomian masyarakat, juga telah membantu mengurangi kebakaran hutan dan lahan di Desa Tanjung Taruna, sebab mereka dengan sukarela menjaga lahan gambut mereka yang melimpah dengan makanan alami sapi agak tak terbakar. Dengan bantuan kepada MPA adalah kontribusi mereka terhadap penanggulangan karhutla,” tutur Dwi.

Pokmas Desa Tanjung Taruna kini menjadi salah satu percontohan yang sering dikunjungi oleh mahasiswa yang ingin berpraktik magang dan menjadi tempat penelitian sejumlah perguruan tinggi, termasuk Institut Pertanian Bogor (IPB) dan perguruan tinggi dari Australia. Bahkan World Bank pernah berkunjung ke sana.

Apakah Dwi merasa cukup? Belum!

Perempuan asal Palangkaraya ini ingin pokmas lain yang dibinanya juga mengikuti jejak Taruna Karya. Sebagai fasilitator BRG, dia ditunjuk mendampingi lima Pokmas di lahan gambut di Kabupaten Pulang Pisau, termasuk Pokmas di Desa Tanjung Taruna. Dia mendampingi Pokmas Ternak Mekar Jaya Mandiri di Desa Mekar Jaya yang mengusahakan peternakan sapi, Pokmas Maju Bersama di Desa Tumbang Nusa dengan usaha peternakan kambing peranakan ettawa, Pokmas Hakadohop Mahaga di Desa Pilang yang mengusahakan ternak kambing peranakan ettawa, dan Pokmas Sumber Rezeki di Desa Sebangau Jaya yang menjadi peternak lebah madu.

Pokmas Taruna Karya dan Pokmas Sumber Rezeki terbilang sebagai pokmas yang sukses. Buktinya, jumlah dan bobot ternak sapi meningkat dengan memuaskan bobot ternak sapi meningkat dengan memuaskan dan penjualan madu masih berlangsung hingga kini.. Kuncinya, kata Dwi, kedisiplinan dan kekompakan anggota. Meski ada kendala, para anggota mau belajar, meningkatkan kapasitas, dan memperbaiki kesalahan. “Saya berharap, kegiatan pokmas ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat tetapi juga memberikan dampak positif terhadap ekosistem gambut,” kata dia.